Idul Fitri 1441 H (2020) di Wellington

Idul Fitri tahun ini adalah Lebaran terakhir kami di New Zealand selama masa studi suami. Dari awal tahun 2020 ini kami sudah berencana untuk Lebaran di ibukota negara ini, pengen merasakan suasana hari raya di KBRI Wellington.

Perihal rencana Idul Fitri di Wellington ini udah pernah saya tulis di tulisan ini. Singkat cerita, karena pandemi COVID-19, rencana kami sedikit berubah. Dari yang awalnya mau naik pesawat PP Auckland-Wellington, akhirnya berangkat jalur darat alias road trip pakai mobil, lalu pulangnya baru pakai pesawat.

Baca: Persiapan dan Tips Untuk Road Trip di New Zealand

Cerita Lebarannya pun berbeda dari yang dibayangkan dahulu. Seperti apa? Saya runut dulu aja dari keberangkatan ya, hehe.

Berangkat dari Auckland ke Wellington

Kami berangkat dari Auckland pada hari Jumat, 22 Mei 2020. Waktu itu baru berangkat sekitar jam 12 siang. Hari pertama ini kami driving sampai Napier saja, lalu menginap di Airbnb di sana. Sengaja memang nginap dulu di tengah-tengah karena kalau langsung ke Wellington itu bisa menghabiskan waktu 8 jam, ga kuat nyetirnya.

Karena road trip, kami udah meniatkan untuk mampir di beberapa spot. Yang di pinggir jalan aja sih, hehe. Dari Auckland ke Napier ga banyak spot berhenti, kami cuma foto sebentar di Waipunga Falls. Bagus deh air terjunnya.

Di Napier kami makan malam dulu di restoran, barulah ke penginapan. New Zealand saat itu sudah berada di alert level 2. Restoran sudah buka, sudah bisa dine-in, tapi meja kursi dibatasi dan dijarakin.

Baca: Penerapan Physical Distancing Saat Pandemi COVID-19 di New Zealand

Besoknya kami muter-muter sebentar di Napier, lalu menuju Te Mata Peak. Ini memang udah diniatkan untuk dikunjungi, hehe. Kami melanjutkan perjalanan lalu ketemulah dengan Te Apiti Wind Farm. Waaah ga nyangka akhirnya ketemu wind farm juga, kami ga tahu sama sekali sebelumnya ada wind farm di sana.

Lanjut, kami berhenti sejenak di Palmerston North. Ini cuma berhenti di sebuah taman, tujuan utamanya buat ke toilet dan cari tempat shalat, huehe. Setelah itu lanjut deh sampai Wellington.

Advertisement

Penetapan 1 Syawal 1441 H di New Zealand 

Kami berbuka dengan kue dan buah di jalan, lalu lanjut driving, mampir di salah satu restoran takeaway di daerah Lower Hutt, Wellington. Tujuannya mau beli makanan berat untuk makan malam sekaligus untuk sahur keesokan harinya. 

Kami masih menunggu makanan ketika suami mengabarkan bahwa di grup sudah ada info bahwa besoknya Lebaran, hilal sudah terlihat. Saya cek grup saya, bener aja, udah ada edaran resmi dari FIANZ. Astaga, saya benar-benar ga pernah menyangka Lebarannya jatuh pada Minggu, 24 Mei 2020. Kirain bakal Senin, karena biasanya di sini telat sehari dibanding Indonesia.

Sedih rasanya Ramadhan udah pergi di luar dugaan. Cuma bisa berdoa supaya bisa ketemu lagi dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya.

Malamnya, Akas nanya apa kita tarawih dan witir, heuheu. Dia udah mulai terbiasa ikut selama Ramadhan tahun ini.

Shalat Ied Bertiga Saja

Hari kemenangan pun tiba. Kami makan pagi sambil mendengarkan takbir dari Youtube. Sendu rasanya ga bisa dengar takbir secara langsung.

Ah iya soal shalat Ied. Dulu itu kan pengennya ikut shalat Ied dan open house yang diadakan KBRI Wellington ya. Tapi karena kondisinya New Zeland masih di alert level 2 dan gathering masih dibatasi maksimal 10 orang, maka KBRI meniadakan acara Idul Fitri di Wellington pada tahun ini. 

Sebenarnya udah expected juga sih, karena aturannya sudah begitu jelas dari sejak awal turun ke alert level 2. Dan di sini orang-orangnya pada patuh, jadi ya nurut sama aturan pemerintah. Ga ada yang kekeuh juga kayak di Indonesia. Minoritas juga sih ya, jadi ga usah cari masalah. Wong yang mayoritas aja juga ga pernah maksa untuk diizinkan beribadah rame-rame di gereja. Padahal kasus COVID-19 di sini udah menurun banget lho. Kalau pakai standar Indonesia mah udah zona hijau semua.

Dengan aturan batas maksimal 10 orang itu, sejumlah teman ada yang mengadakan shalat Ied bareng 2-3 keluarga gitu. Katanya ada juga yang ngadain shalat Ied di masjid, tapi mesti reservasi, dan batasnya tetap 10 orang.

Kami sendiri karena posisinya bukan di kota tempat kami tinggal, mau nebeng orang juga ga ada bayangan, akhirnya shalat Ied bertiga aja di penginapan. Ga ada khutbah sih, tapi saya diingatkan lagi untuk pandai-pandai mengatur prioritas.

Jalan-Jalan dan Foto Lebaran

Selain buat berlebaran, ke Wellington kali ini juga tujuannya untuk sekalian jalan-jalan, hehe. Sebelum jalan-jalan, kami bikin foto Lebaran dulu. Mandatory lah ya untuk di-posting, wkwk.

Kami memilih untuk bikin foto Lebaran di depan Wellington Sign. Jadi ada bukti gitu deh bahwa Idul Fitri di Wellington, wkwk. Saat kami sampai di sana, ada beberapa cewe Malaysia yang juga lagi foto-foto di sana. Wah ternyata bukan kami aja yang kepikiran buat bikin foto Lebaran di sana, wkwk.

foto di wellington sign
Foto Lebaran di Wellington Sign

Berikutnya kami pergi ke Weta Cave, foto lagi deh dengan patung Troll yang ada di sana. Berasa geje Lebaran sama Troll, wkwk.

Troll di Weta Cave
Silaturahmi ke rumahnya Troll #eh

Setelah itu baru deh jalan-jalan. Tapi ternyata ga banyak juga yang bisa didatangi, karena tempat wisata sebagian besar masih tutup, huhu. Kami cuma naik cable car, lalu sampai di atasnya cuaca mulai tak bersahabat. Akas sempat main sebentar di playground yang ada di Wellington Botanic Garden. Lalu hujan deh, heuheu.

wellington cable car
Wellington dan cable car-nya

Kami turun lagi dengan cable car, lalu jalan sebentar demi motoin Beehive, kantornya bu PM Jacinda Ardern. Abis itu lanjut makan malam di restoran Indonesia.

Silaturahmi Tak Terencana

Lebaran hari kedua adalah hari terakhir kami di Wellington. Rencana awalnya sih buat jalan-jalan. Masih ada rencana buat bawa Akas main ke Frank Kitts Park dan mampir di Mount Victoria Lookout. Tapi sejak pagi cuaca sudah hujan. Dan melihat langit yang semuanya putih, kecil kemungkinan cuaca bakal berganti cerah, huhu.

Keluar dari penginapan, kami muter-muter sebentar, driving deh ke KBRI Wellington. Tentu saja KBRI-nya tutup karena KBRI itu juga libur kalau di Indonesia tanggal merah, huehe. Yaa at least udah lihat KBRI di New Zealand ini kayak apa. Lihatnya pun dari dalam mobil doank, wkwk.

KBRI Wellington
Santai banget kantornya ga dipagarin, beda jauh dengan KBRI Tokyo

Bingung mau ke mana, akhirnya kami coba nongkrong di kafe, cari kopi dan coklat hangat. Satu hal yang saya rasakan berbeda di kafe di Wellington ini, pegawainya ramah-ramah dibanding di Auckland. Dan lebih berasa di New Zealand, karena kalau di Auckland udah kebanyakan imigran, wkwk.

Baca: Auckland Itu Seperti Apa? Kenalan Yuk!

Pak suami lalu iseng coba kontak beberapa teman dan kenalannya di Wellington. Yaa sekalian maaf lahir batin. Eh ternyata ada yang menawarkan untuk bertamu. Daripada Lebaran jadi geje ga kemana-mana karena hujan, akhirnya kami silaturahmi aja.

Silaturahmi pertama ke rumahnya Pak Agam, yang punya channel Youtube ini. Di rumah Pak Agam ini akhirnya baru berasa Lebaran beneran, huhu, masya Allah. Disuguhi lontong opor, juga kue-kue. Keluarga Pak Agam juga ramah banget, kita ngobrol lamaaa sampai ga kerasa waktu udah berjalan lumayan lama.

Foto bareng Pak Agam

Silaturahmi kedua ke rumah temen suami sesama penerima beasiswa NZAS. Di sana kami ngobrol panjang lebar lagi, juga disuguhi lontong opor lagi. Alhamdulillah ya walau Lebaran jauh dari domisili apalagi tanah air, masih bisa ngerasain makanan Lebaran, hehe.

Biasanya kalau ada rencana jalan-jalan lalu ada yang ga sesuai harapan gini, saya rada sedih, kecewa, gemez, dan sebangsanya. Berasa rugi udah jauh-jauh ke sana tapi ga sesuai harapan. Sesungguhnya dari tempat-tempat yang udah saya list untuk dikunjungi di Wellington, sebagian besar gagal dikunjungi. Antara karena tutup atau karena hujan.

Tapi kali ini rasanya berbeda. Ga ada rasa sedih ataupun kecewa, malah rasanya senang sekali bisa ngobrol langsung dengan orang lain. Mungkin karena the power of silaturahmi ya, ditambah udah lamaaa banget ga ngobrol dengan orang lain sejak negara ini lockdown.

Baca: New Zealand Bisa Menekan Penyebaran COVID-19, Bagaimana Caranya?

Terbang dari Wellington ke Auckland

Beres silaturahmi yang menyenangkan, waktu udah menunjukkan jam 3 lewat. Ga nyangka silaturahminya lebih lama dari bayangan semula. Kami dulu booking mobil sampai jam 4 sore, lalu akan balik ke Auckland dengan penerbangan jam 6.

Sebelum mengembalikan mobil, kami masih pengen mampir bentar ke Mount Victoria Lookout, juga ke patung Gandalf yang kemarin kelewat, wkwk. Akhirnya disempetin, buru-buru cuma foto sebentar trus cabut, hihi. Kami telpon pihak rental mobilnya dan katanya ga apa-apa balikin lewat dari jam 4 asal sebelum jam 5.

Beres dari foto-foto kami langsung isi bensin full tank lagi lalu balikin mobilnya. Pegawai rental mobilnya ramah banget deh, bikin makin terkesan sama orang-orang Wellington ini. Udah beberapa kota besar di New Zealand ini kami kunjungi, baru di Wellington ketemu yang ramah banget begini.

Dari tempat rental, kami diantar pakai mobil shuttle ke bandara. Deket sih sebenernya dari bandara, tapi kalo jalan sambil geret koper ya gempor juga, hehe.

Oia di alert level 2 ini domestic travel udah diperbolehkan, makanya kami bisa pergi ke luar kota serta naik pesawat. Cerita soal penerbangannya sendiri udah pernah saya share di Instagram story saya. Cek aja di highlight ini yaa, kepanjangan ntar kalo di-copy semua ke sini, hehe. 

air new zealand
Suasana di dalam pesawat Air New Zealand saat alert level 2

Demikianlah cerita kami saat Idul Fitri di Wellington tahun ini. Banyak hal-hal yang ga sesuai rencana, tapi banyak juga hal menyenangkan yang ga pernah dibayangkan.

Akhir kata, saya mau ngucapin Selamat Idul Fitri 1441 H lagi buat semua, hehe. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang tidak berkenan di blog ini ataupun di media sosial saya. Semoga pandemi COVID-19 segera berakhir dan tahun depan kita bisa berlebaran seperti dulu lagi, aamiin.

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: