Auckland Itu Seperti Apa? Kenalan Yuk!

Dulu waktu baru-baru pindah ke Auckland, kalau ditanya Auckland itu kayak apa, gimana rasanya tinggal di Auckland, saya ga bisa jawab banyak. Namanya juga baru kenalan, hehe. Saat ini saya sudah 4 bulan tinggal di Auckland, jadi sedikit banyak udah bisa deh menjawab.

Baca juga: New Chapter: Pindah ke Auckland

Dari segi wilayah, nama Auckland itu bisa merujuk pada Auckland Region dan Auckland City. Auckland Region itu kalau di Indonesia ibarat provinsi, sementara Auckland City itu kota/kabupaten-nya. Wilayah kotanya sendiri dibagi-bagi lagi ke dalam suburb, selevel kecamatan kali ya.

Wilayah Auckland City, yang ada dalam border merah. Yang sampai garis putus-putus abu-abu itu perbatasan Auckland Region.

Kami saat ini tinggal di suburb Auckland CBD (central business district), sering juga disebut sebagai Auckland Central atau City Centre. Pusat kota banget deh sesuai namanya. Gedung-gedung pencakar langit, pusat bisnis, usaha komersial, juga kampusnya suami saya a.k.a The University of Auckland ngumpul semua di sini. Jadi kalau Anda melihat foto pemandangan New Zealand dengan padang rumput yang luas sekali dan banyak sapi atau dombanya, bisa dipastikan itu BUKAN di wilayah tempat tinggal kami sekarang, wkwk.

Sejauh ini saya belum begitu banyak menjelajah wilayah Auckland. Masih dalam wilayah Auckland City saja, hehe. Jadi hal-hal yang saya bahas di bawah ini ya sejauh apa yang bisa saya amati selama 4 bulan ini. Ok deh, langsung saja yaa, berikut 8 hal yang perlu Anda ketahui tentang Kota Auckland.

Kota Yang Ramai Tapi Sepi

Auckland Region adalah wilayah terpadat di NZ. 35% dari populasi satu negara ini tinggal di wilayah ini. 70% wilayah Auckland Region adalah area rural, sisanya area urban. Tapi 90% penduduknya tinggal di area urban. Sepengamatan saya, wilayah Auckland CDB itu yang paling padat.

Tapi jangan bayangkan kondisinya sama dengan kota metropolitan lainnya di dunia. Ga usah jauh-jauh bandingin dengan Tokyo atau New York, Bandung masih jauh lebih padat dibanding Auckland. Seramai-ramainya Auckland, jarang banget ketemu lautan manusia di sini, paling kalau ada event tertentu saja, dan itu pun ga sampai desak-desakan banget.

Kalau lihat data, memang penduduk sini ga sebanyak Bandung juga sih, wkwk. 35% dari populasi negara kesannya gede ya, tapi jumlah penduduk NZ itu kata Wiki “cuma” 4,9 jutaan. Indonesia berapa? 260 juta? Ahaha. Penduduk Auckland sekitar 1,6 juta jiwa. Kota Bandung? 2,5 juta lebih. DKI Jakarta? 10 juta lebih. Jadi emang jauuuh ya bedanya, wkwk.

Makanya walau Auckland ini kota paling padat menurut standar NZ, masih kerasa sepi lah menurut standar Indonesia, ahaha. Kampung halaman saya aja masih lebih ramai dibanding suburb di luar Auckland CBD.

queen-street-auckland
Queen St., salah satu lokasi paling ramai di Auckland, katanya

Kota Metropolitan Tapi Selow

Dulu 3 tahun tinggal di Tokyo, kerasa banget deh itu kotanya sibuk banget dan semuanya bergerak dengan cepat. Apalagi di stasiun kereta seperti Shibuya dan Shinjuku, semua orang literally bergerak dengan cepat.

Di Auckland, kadang saya ga merasa tinggal di kota besar. Orang-orangnya tampak santai. Siang hari ga gitu kelihatan ingar-bingarnya perkotaan, apalagi malam hari. Jam 6 sore (ini bisa masih terang di musim panas atau sudah gelap di musim dingin), mall-mall udah pada tutup. Supermarket ada yang masih buka sampai jam 10 malam, tapi ga ramai juga sih kalau malam.

santai-di-library
Nyantai di library

Kota Multi Etnis Dari Seluruh Penjuru Dunia

Penduduk Auckland itu etnisnya beragam sekali, ada dari seluruh penjuru dunia. NZ memang terbuka ya dengan pendatang.

Selama ini kalau ke mana-mana pasti ketemu dengan orang dari berbagai negara. Di jalan denger mereka sekilas ngobrol, kadang udah ga tahu lagi itu bahasa mana, haha. Selain warga lokal (yang bule ataupun Maori), orang Asia banyak banget dibanding etnis lain, mayoritas Chinese atau India.

Dengan keberagaman ini, kita sebagai pendatang terasa lebih welcome juga tinggal di sini. Sejauh ini ga pernah ketemu orang yang rasis. Kita yang muslim pun damai, yang pakai jilbab banyak.

auckland-multi-etnis
Di salah satu ruas jalan dekat apartemen kami

Kota dengan Biaya Hidup yang Mahal

Ngomongin biaya hidup mahal ini de javu deh buat saya. Dulu tinggal di Tokyo, katanya termasuk kota termahal di dunia. Lalu tinggal di Balikpapan, katanya kota termahal di Indonesia. Sekarang di Auckland, masih aja kena embel-embel kota mahal, haha.

Soal mahal ini sebenarnya relatif ya. Kalau semua dikonversi ke rupiah, ya jadinya mahal atuh. Tapi kalau dibandingkan dengan standar sini, sebagian besar wajar aja sebenarnya. Lalu apanya yang mahal? Ini saya coba bandingkan dengan Tokyo aja ya, yang paling kerasa mahalnya sejauh ini:

  • Sewa apartemen. Urusan tempat tinggal biasanya selalu jadi yang paling mahal di kota besar. Saat ini kami tinggal di apartemen tipe studio. Sewanya NZ$360/minggu, segitu udah termasuk paling murah. Let’s say sebulan anggap aja sewanya NZ$1.500. Di Tokyo, apartemen serupa mungkin sewanya sekitar ¥80.000/bulan, itu sekitar NZ$1.150. Itu selisihnya 3 jutaan rupiah per bulan kk, wkwk.
  • Barber shop alias potong rambut. Saya sih ga butuh motong rambut ya di luar negeri, biasanya nunggu mudik aja, haha. Suami nih yang butuh. Di sini sejauh ini ketemu barber shop paling murah NZ$25, khusus student NZ$20. Di Tokyo kalau ga salah masih ada deh barber shop ¥1.000 untuk potong rambut, yang berarti sekitar NZ$15. Apalagi kalau dibandingin dengan tukang cukur di Indonesia ya, wkwk.
apartemen-di-auckland
Beberapa gedung apartemen di Auckland

Kota yang Masih Melestarikan Budaya

Dulu saya kira NZ itu adalah negara bule #halah, jadi saya pikir saya ga bakal ketemu dengan budaya tradisional setempat. Ternyata saya salah. Penduduk asli NZ adalah bangsa Māori yang berasal dari pulau di Polinesia. Kebudayaan mereka masih melekat dan masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di Auckland.

Bahasa Māori yang disebut Te Reo masih banyak digunakan. Di sekolah Akas yang level preschool aja, Te Reo sudah dibiasakan untuk dipakai. Buku anak di perpustakaan dan pengumuman di bus tersedia dalam bahasa Māori. Istilah dan frasa umum dalam Te Reo seperti sudah membaur dengan bahasa Inggris, minimal orang-orang tahu deh dengan “Kia Ora”.

Di acara penyambutan mahasiswa baru, suami menyaksikan tarian dan bentuk penghormatan dari suku Māori. Di kampus (setidaknya di kampus UoA dan AUT) ada rumah tradisional Māori yang disebut Marae.

marae-maori-auckland
Marae dan ukiran tradisionalnya

Kota yang Muslim-Friendly

Untuk ukuran negara di mana muslim adalah minoritas, menurut saya di Auckland ini mencari makanan halal relatif mudah. Ada banyak halal butcher yang menjual daging sapi, kambing, dan ayam halal. Ayam lokal NZ pun ada yang halal (walau tidak selalu ada label halalnya).

Restoran halal ada banyak pilihan. Kebanyakan restoran Turki atau India, tapi restoran Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga Tiongkok yang halal juga ada.

Masjid tersedia, Islamic centre juga ada. Muslimnya terasa lumayan banyak, karena tiap saya bepergian pasti selalu ketemu dengan yang jilbaban, hehe. Dibanding orang Jepang yang kadang masih blank soal agama, di sini ga gitu. Orang-orang tahu Islam, apalagi setelah kejadian di Christchurch yang menggemparkan itu.

Baca juga: Sekilas Ramadhan 1440 H (2019) di Auckland

daging-halal-auckland
Rak daging halal di Pak’nSave Mt. Albert

Kota yang Tidak Datar

Sebelum pindah ke Auckland, melihat lokasi kotanya yang ada di pinggir pantai, bayangan saya kota ini berupa dataran rendah seperti yang banyak kita temui di Indonesia. Ternyata saya salah besar. Walau dekat pantai, di sini daerahnya ga rata sama sekali, banyak naik turun juga, heuheu.

Jadi kalau jalan kaki di sini lumayan juga kalau ketemu tanjakan. Malesin ya, haha. Tapi anggap ajalah sebagian dari olahraga. Jalan kaki juga bikin tubuh lebih hangat saat berada di luar dengan cuaca yang dingin. Dan semoga bisa bikin turun berat badan saya ya, wkwk.

daratan-auckland
View yang cukup mewakili tidak datarnya Auckland ini, wkwk

Kota yang Bentang Alamnya Tidak Berasa Kota Besar

Dari tadi ngasih istilah aneh mulu, hihi. Dulu, kota besar itu dalam bayangan saya ya seperti Jakarta itu. Isinya mayoritas gedung-gedung, bangunan tinggi, jalan raya, dan kendaraan. Tapi Auckland tidak seperti itu. Iya sih Di Auckland CBD banyak gedung tinggi, tapi itu wilayahnya cuma sebagian kecil saja dibanding keseluruhan kota Auckland. Jalan sedikit ke suburb lain, langsung kerasa banget deh bedanya.

Suburb lain lebih didominasi perumahan penduduk, dan hampir ga ada gedung tinggi sama sekali. Rumah penduduk sini pun halamannya luas-luas. Minimal bisa deh buar naruh dua mobil di halaman depan rumahnya. Kebanyakan malah lebih luas lagi.

Kotanya di pinggir pantai, jadi gampang kalau mau main ke pantai. Tapi ga perlu jauh dari pantai, kita juga bisa main ke bukit. Ruang terbuka hijau banyak, pepohonan juga banyak.  Udaranya bersih.

Malam hari kalau cerah masih banyak bintang yang terlihat di langit. Ini mungkin karena faktor udara bersih plus faktor kota yang tidak terang-benderang di malam hari.

rumah-penduduk-auckland
Rumah penduduk di Auckland

Sekian dulu sekilas cerita tentang Auckland-nya. Ada yang berminat pindah ke Auckland? 😉

Salam,

Reisha Humaira

5 tanggapan untuk “Auckland Itu Seperti Apa? Kenalan Yuk!

  • 6 Agustus 2019 pada 09:49
    Permalink

    Saya suka suasana Auckland dan NZ in general, sama Aussie juga suka. Karena suasananya selalu membuat tenang, serasa hidup itu betul-betul tenang~ beda sama Jepang atau Korea yang segala sesuatunya bergerak cepat jadi serasa ngos-ngosan sendiri kalau di sana hahaha. Nah di NZ atau Aussie ini betulan rileks hehehe 😀

    Balas
  • 8 Agustus 2019 pada 14:38
    Permalink

    Haii Mba Reisha, aku lagi cari-cari info hidup di AKL nemu blog ini hehee. Aku akan nyusul suami awal januari nanti. Anak juga kayanya seumuran ya? Salam kenal yaa! Tulis tentang adaptasi anak di sekolah dong Mba 🙂

    – Tika

    Balas
    • 8 Agustus 2019 pada 19:56
      Permalink

      Halooo. Horee nanti nambah warga sini. Tinggal di mana nanti mba?

      Siip insya Allah ditulis ttg sekolah. Ini lagi nyicil nulis seputar AKL, hehe.

      Balas
      • 12 Agustus 2019 pada 13:56
        Permalink

        Karena belum berencana (belum mampu juga hehe) punya mobil di tahun pertama, sepertinya akan cari apartemen di CBD supaya bisa jalan kaki ke kampus. Atau paling ngga, daerah yang mudah akses busnya 🙂

        Balas
  • 14 Agustus 2019 pada 01:43
    Permalink

    Wih pengalaman yang luar biasa Bun bisa tinggal di negeri asing. Sehat dan sukses terus ya, Bun. Semoga saya dan keluarga bisa kesenggol juga punya pengalaman tinggal di negeri asing ya, Bun. Aamiin

    Balas

Leave your comment