Itinerary dan Biaya Road Trip dengan Campervan di South Island, Summer 2019

Sudah pernah road trip di South Island pada musim dingin 2019, kami merasa belum puas. Tentu saja tidak puas karena banyak spot “wajib” di South Island yang belum kami kunjungi karena kendala cuaca waktu itu. Kami pun kambali ke South Island yang cantik itu di musim panas 2019. Ini berarti road trip keempat kami di New Zealand.

Road trip ini dilakukan pada tanggal 13-20 Desember 2019. Ini merupakan road trip terlama kami selama di New Zealand, menghabiskan waktu 8 hari. Kami juga memilih dengan campervan lagi karena South Island itu memang lebih puas dinikmati dengan campervan.

Seperti biasa, tulisan ini bahas itinerary dan biayanya terlebih dahulu. Nanti cerita lengkapnya ditulis terpisah.

Drama Beli Tiket Pesawat dan Sewa Campervan

Musim panas adalah musim dengan hari libur terpanjang di New Zealand. Suami di kampus sudah libur semester dari awal-tengah Desember, lalu semester berikutnya baru dimulai tengah-akhir Februari. Sementara sekolahan libur dari pertengahan Desember hingga akhir Januari atau awal Februari.

Dengan waktu libur selama itu, tentunya liburan sudah masuk agenda. Apalagi semester berikutnya pak suami bakal sibuk berkutat dengan tesisnya. Jalan-jalan di musim panas juga bakal lebih puas karena siangnya panjang banget. Matahari baru terbenam sekitar jam 9 malam.

Tapi kami paham betul “musuh” dari liburan di musim panas: apa-apa MAHAL! Terutama sewa campervan.

Tadinya kami membayangkan bakal liburan di pertengahan Februari. Berhubung anak sekolah udah mulai sekolah lagi, mungkin biayanya lebih murah ya. Begitu dicek, ternyata kami salah besar. Februari itu sewa campervan masih ajegile mahalnyaaa. Bisa 4x lipat harga di musim dingin, bahkan lebih. Wadaw, impossibru!

Kami cek-cek lagi, tanggal berapa sih di rentang libur musim panas ini yang sewa campervan-nya masih “manusiawi”? Ternyata sebelum tanggal 20 Desember. Dan campervan dengan sewa yang “paling murah” sesuai kriteria kami mesti disewa selama minimal 7 hari.

Setelah tahu kisaran harga sewa campervan, kami langsung mencari tiket pesawat. Kami dahulukan membeli tiket pesawat karena ga lucu aja ntar kalo campervan udah dapet tapi pesawatnya ga ada, gimana cara ke South Island-nya coba. Jetstar selalu jadi andalan untuk cari pesawat murah. Kami pun langsung memesan tiket PP Auckland-Christchurch 14-20 Desember 2019.

Usai beli tiket, barulah kami booking campervan. Ketika booking barulah ketahuan bahwa campervan yang kami incar itu bisanya disewa tanggal 13-19 Desember 2019, bahkan 13-20 Desember 2019 pun ga bisa. Rupanya tanggal 20 itu udah beda harga.

Galau, tiket pesawat dan campervan selisih waktu sehari. Opsinya: 1) kami tetap berangkat tanggal 14 sesuai tiket pesawat, jadi rugi sehari nyewa campervan-nya, atau 2) kami reschedule keberangkatan ke tanggal 13 dengan risiko kena biaya tambahan dari Jetstar. Reschedule kepulangan bukan pilihan karena bakal nombok tiket pesawat lebih banyak lagi.

Akhirnya kami memilih opsi kedua, karena dengan opsi pertama rasanya rugi lebih banyak dan waktu kami untuk keliling dengan campervan pun berkurang. Nambah biaya tentunya, tapi ya sudahlah. Lesson learned nih, mending pastikan dulu campervan available sebelum membeli tiket pesawat.

Itinerary Road Trip 8 Hari 7 Malam di South Island

Sudah 2x road trip dengan campervan, kami sudah cukup paham tips and tricks-nya. Oleh karena itu, ketika menyusun itinerary pun kami lebih santai.

Awalnya kami hanya membuat list tempat-tempat yang ingin dikunjungi, ditambah itinerary kasar kira-kira urutan perjalanannya gimana. Tapi dalam eksekusinya, semua berubah dibanding apa yang sudah kami tulis, wkwk.

Tadinya rencananya kami mau memutari bagian tengah South Island. Jadi dari Christchurch kami bergerak ke arah barat dulu, melewati Arthur’s Pass, menyusuri West Coast, lalu berbelok ke Wanaka, mampir ke Queenstown, lanjut ke utara menuju Mt. Cook – Lake Pukaki – Lake Tekapo, lalu kembali ke Christchurch.

Itinerary final berubah karena beberapa faktor:

  • Di West Coast ternyata ada wilayah yang banjir dan jalannya ditutup. Otomatis kami tidak bisa melewati daerah sana. Teman suami ada yang apes terjebak dua hari di sana, kami tentunya tidak mau terjebak juga.
  • Cuaca ternyata tidak selalu bersahabat. Cuaca hujan biasanya bakal membuat kami segera mengganti rencana karena road trip sambil hujan-hujanan itu ga enak.
  • Ternyata ada tempat yang tidak pernah masuk radar kami, tapi akhirnya kami datangi dan kami malah cukup lama menghabiskan waktu di sana.

Akhirnya beginilah peta rute yang kami tempuh. Total driving kali ini 1.974 km, terpanjang dari 4x road trip yang sudah kami jalani.

Begini detailnya.

Day 1: Auckland – Christchurch – Lake Tekapo

Kami terbang dari Auckland dan sampai di Christchurch sekitar jam 11 siang. Sampai di bandara, kami langsung mengontak kantor tempat kami menyewa campervan. Kami diarahkan untuk menunggu shuttle. Sampai di kantornya, ternyata yang lagi antre buat ambil campervan juga banyak. Alhasil prosesnya lebih lama dibanding biasanya.

Kami memesan campervan Mighty Double Up, tapi dapatnya campervan Britz Explorer. Ke-upgrade dikit, hehe. Udah dapat campervan, kami belanja groceries dulu. Abis belanja baru ngeh di campervan ga ada coloka USB, jadi kami kudu cari converter colokan dulu, huft.

Perjalanan makan waktu lebih lama karena pak suami belum terbiasa bawa campervan yang lebih gede ini, ditambah beberapa kali ada masalah di jalan. Kami bisa dibilang ga sempat mampir-mampir.

Kami menginap di Lake Tekapo Motels & Holiday Park, dan baru sampai di sana jam setengah 12 malam. Tengah malam? Yes. Tapi secara waktu shalat, jam segitu baru masuk Isya di sana, haha. Badan teler banget rasanya setelah menempuh perjalanan panjang.

Day 2: Lake Tekapo – Lake Pukaki – Mt. Cook

Pagi dimulai dengan pemandangan yang cantik sekali. Campground itu lokasinya memang menghadap ke Lake Tekapo. Kami menuju pinggir danau, menikmati danau yang cantik dan foto-foto. Selanjutnya kami menuju Church of the Good Shepherd yang juga berada di pinggiran Lake Tekapo.

Puas di Lake Tekapo, kami segera bergerak mengejar tujuan berikutnya, Aoraki/Mt. Cook. Tapi sebelumnya kami mampir dulu di pinggir Lake Pukaki yang juga indah.

Agenda utama berikutnya adalah hiking di Hooker Valley Track, biar bisa lihat Mt. Cook lebih dekat. Track ini kalo ga salah total jalurnya PP sekitar 10 km, tapi tentu saja kami tidak akan hiking sampai ke ujung. Ga mungkin rasanya bawa Akas hiking sejauh itu, jadi kami hiking sebisanya aja. Mana saat itu ga bawa bekal makanan pula, wkwk.

Beres hiking di Hooker Valley Track kami menginap di campground di pinggir Lake Pukaki.

Day 3: Lake Pukaki – Clay Cliffs – Wanaka – Makarora

Dari campground kami langsung ke Mt. Cook Alpine Salmon, tentunya untuk makan salmon. Sayangnya sejak pagi langit di Lake Pukaki mendung banget, sehingga Mt. Cook tidak terlihat sama sekali. Dari Lake Pukaki kami bergerak ke selatan. Rencananya mau ke Wanaka. Kami berhenti sebentar di Twizel untuk ke dump station.

Dari Twizel, cuaca hujan terus, lalu kami lihat ada plang scenic area di sisi kanan jalan. Tiap ada info scenic area, kami sering mampir karena biasanya pemandangannya bagus. Begitu belok kanan, keterangannya “Clay Cliffs 10 km”.

Googling kilat, eh kok keren. Jadi kami hajar aja ke sana walau agak jauh. Sampai di Clay Cliffs, sungguh ga nyesel deh “nyasar” ke sana. Terkagum-kagum sendiri melihat bentang alam di depan kami. Ini nih tempat yang ga ada di rencana, tapi akhirnya malah berlama-lama di sana, wkwk.

Dari Clay Cliffs kami lanjut ke Lake Wanaka. Mampir bentar aja di sana buat lihat pohon di tengah danau itu. Berikutnya kami bergerak ke utara, melewati The Neck, daratan sempit yang memisahkan Lake Wanaka dengan Lake Hawea. Malamnya kami menginap di Cameron Flat Campsite yang letaknya tak jauh dari Makarora River.

Day 4: Blue Pools – Wanaka – Queenstown – Omarama

Pagi hari kami jalan santai ke Blue Pools. Bukan kolam renang, melainkan ada bagian sungai yang airnya jernih dan biru banget. Beres dari Blue Pools, kami kembali ke Wanaka.

Tujuan utama ke Wanaka kali ini adalah ke Wanaka Lavender Farm. Mestinya kami ke sana hari sebelumnya, tapi ditunda karena kelamaan di Clay Cliffs, hehe.

Next, kami driving menuju Queenstown tapi sebelumnya mampir dulu di Cromwell. Pak suami mau isi fuel, juga mau rehat sejenak. Pas juga ada playground di sana jadi Akas bisa main dulu.

Di Queenstown, kami naik gondola di Skyline Queenstown. Sampai di atas kami cuma lihat-lihat pemandangan dan jajan.

Queenstown adalah ujung selatan dari road trip kali ini. Kami berbalik arah ke utara lagi. Soal menginap di mana, kali ini tergantung sampai mana pak suami kuat nyetir. Tadinya mau sampai Lake Pukaki atau Twizel, tapi ga kuat euy. Jadinya kami menginap di Ahuriri Bridge Campsite, Omarama saja.

Day 5: Omarama – Arthur’s Pass – Punakaiki

Hari itu cuaca sangat tidak bersahabat. Di ramalan cuaca, seharian bakal hujan di mana-mana. Tadinya kalo cerah saya pengen mampir ke Lake Pukaki dan Lake Tekapo lagi, mumpung dilewati lagi. Tapi karena hujan, ya syudah bhay.

Sepanjang perjalanan, cuaca sesuai ramalan, hujan seharian. Sempat berfoto sebentar di ladang bunga lupin, tapi setelahnya ga ada mampir di spot lain. Beberapa kali memang kami berhenti, tapi hanya untuk istirahat dan makan.

Ternyata suami lagi semangat driving hari itu, dan akhirnya kami lanjut terus donk sampai Punakaiki. Total driving hari itu sekitar 530 km. Ini rekor terpanjang pak suami nyetir dalam satu hari.

Day 6: Punakaiki – Arthur’s Pass – Christchurch

Setelah kemarinnya seharian hujan, kali ini cuaca cerah! Destinasi pertama kami adalah ke Punakaiki Pancake Rocks and Blowholes. Keliling-keliling di sana bentar menikmati pantai yang dipenuhi batu-batu seperti lapisan pancake.

Dari Punakaiki kami kembali ke jalur tengah melewati Arthur’s Pass. Kali ini bisa mampir di beberapa tempat seperti Otira Viaduct Lookout dan Lake Pearson.

Berikutnya kami mampir di Cave Stream. Ga ada ekspektasi apa-apa ke tempat ini, tapi juga berakhir dengan terkagum-kagum. Foto di sana aja masih saya jadiin salah satu wallpaper laptop hingga sekarang.

Lanjut. Ga begitu jauh dari Cave Stream, waktunya mampir di Castle Hill. Daya tarik utamanya adalah bukit yang dipenuhi batu-batu gede. Ah, New Zealand ini, bukit sama batu ga diapa-apain juga udah cantik.

Malamnya kami menginap di Christchurch. Kali ini di campground yang berupa halaman rumah orang, wkwk.

Day 7: Christchurch

Hari ketujuh ini adalah waktunya campervan dikembalikan. Jadwalnya sebelum jam 4 sore. Tadinya mau cari tempat dengan pemandangan bagus di sekitar Christchurch, udah pilih satu tempat, eh pas sampai sana zonk rasanya, heuheu.

Ya sudah, sisa waktu kami gunakan untuk beberes campervan dan packing aja. Kami kembali ke kantor Britz dan alhamdulillah proses pengembaliannya lebih cepat.

Kalau biasanya kami langsung ke bandara setelah balikin campervan, kali ini tentu saja tidak karena jadwal pesawat balik ke Auckland masih keesokan harinya. Kami segera menuju AirBnB tempat kami menginap di Christchurch.

Kami sampai di AirBnB sekitar jam 5 sore. Setelah bebersih dan mandi, kami keluar lagi mumpung masih terang. Kami bawa Akas main ke Margaret Mahy Playground. Playground ini rupanya playground terbesar di New Zealand, juga di belahan bumi selatan. Puas banget deh main di sana.

Day 8: Christchurch – Auckland

Hari itu hari terakhir kami di Christchurch. Masih ada waktu sampai sore karena jadwal penerbangan baru jam 17.50. Kami memanfaatkan sisa waktu dengan keliling kota Christchurch pakai tram. Kami mampir di beberapa tempat di pusat kota, dan juga mengunjungi Masjid Al Noor, masjid lokasi tragedi penembakan 15 Maret 2019. Campur aduk rasanya ketika memasuki masjid ini.

Setelah puas keliling Christchurh, kami ke bandara dan terbang lagi ke Auckland. Libur panjang pun berakhir.

Biaya Road Trip 8 Hari 7 Malam di South Island

Road trip kali ini menghabiskan biaya paling banyak di antara sekian road trip yang kami lakukan di New Zealand. Ada tiga faktor utama yang membuat kenapa biaya road trip ini membengkak:

  • Timing. Musim panas memang musim paling mahal untuk liburan. Sebagai gambaran, ketika kami road trip di musim dingin, rate sewa campervan yang kami pakai saat itu “hanya” NZ$92/hari (belum termasuk diskon dan asuransi). Sementara di musim panas ini, rate sewanya NZ$229.27/hari. Setelah 20 Desember hingga Februari itu, rate sewanya bisa mencapai NZ$400/hari. Nangis ga tuh lihat harganya, huhu.
  • Durasi. Sebelumnya kami hanya melakukan road trip paling lama 6 hari. Tapi kali ini total 8 hari. Otomatis pengeluarannya juga lebih banyak. Padahal udah diminimalkan tuh mampir ke tempat wisata berbayar, heuheu.
  • Tiket pesawat. Selain lagi ga ada promo, kami juga apes karena mesti reschedule dan kena biaya tambahan.

Namun demikian, saya ga punya rincian detail total biayanya berapa, hehe.

Jadi dulu itu ceritanya saya males banget ngerekap total pengeluaran road trip kali ini. Ditunda-tunda mulu karena ga mau nangis lihat totalan, wkwk. Mayoritas transaksi cashless, jadi semuanya ada di mutasi rekening. Apesnya saya baru nulis ini sekarang dan rekening yang di New Zealand itu udah ditutup, jadi ga bisa diakses lagi mutasi rekeningnya, wkwk.

Yang sempat saya catat hanyalah yang ada di sheet berikut ini.

Segitu aja udah jauh bedanya dibanding biaya road trip di musim dingin lalu. Itu belum termasuk bahan bakar, gas, sama makan. Dulu pakai campervan 6 hari, total diesel dan Road user charges (RUC) sebesar NZ$430.26. Kali ini pakai campervan 7 hari, sampai NZ$500 kali ya? Makan mungkin habis NZ$200an. Pengen naruh emoji senyum dengan setetes air mata di sini, heuheu.

Sekian rincian itinerary dan biaya yang kami keluarkan saat road trip di South Island, Desember 2019 lalu. Road trip terakhir sebelum pandemi datang menyerang. Suatu saat nanti ketika New Zealand udah terima turis asing lagi, semoga tulisan ini membantu yang mau road trip ke sana ya. Silakan juga kalau mau nanya-nanya. 😉

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: