Melihat Kehidupan Seorang Single Father di Film Fatherhood (2021)

Beberapa waktu yang lalu saya buka Netflix dan mengecek menu Coming Soon. Pandangan saya tertuju ke trailer film berjudul Fatherhood. Baca deskripsi singkatnya cukup bikin saya tertarik. Saya tonton trailer-nya, fix lah masuk ke list film yang akan ditonton, lalu yuk mari review.

A widowed new dad copes with doubts, fears, heartache and dirty diapers as he sets out to raise his daughter on his own. Inspired by a true story.

Fatherhood (2021)

Untuk tontonan, saya dan suami punya selera yang beririsan. Ada genre yang sama-sama kami suka, tapi ada juga yang bertolak belakang. Untuk film drama biasanya pak suami tidak begitu tertarik. Tapi berhubung temanya tentang ayah, kali ini saya coba tanya, dan suami pun mau nonton, hoho.

Sebelum cerita lebih lanjut, silakan ditonton dulu ya trailer-nya.

Rating per hari ini: IMDB 6.7/10, Rotten Tomato 65%

Sinopsis Film Fatherhood (2021)

Hari yang seharusnya jadi hari penuh suka cita berubah menjadi duka, ketika sang istri, Liz, meninggal secara mendadak sehari setelah melahirkan. Matt sekarang menjadi single parent bagi bayi perempuannya, Maddy.

Marion, ibu dari Liz menyarankan agar Maddy diurus oleh mereka saja. Keluarganya juga tidak yakin Matt bisa mengurus bayinya. Namun Matt memutuskan untuk merawat bayinya sendiri dan bertekad akan melakukan yang terbaik.

Mengurus bayi yang baru lahir tentunya tidak mudah bagi Matt, apalagi pengetahuannya seputar mengurus bayi juga minim. Bulan pertama menjadi masa-masa yang berat dan melelahkan buat Matt. 

review film fatherhood 2021

Fast forward ke beberapa tahun kemudian, Maddy pun mulai bersekolah. Masalah-masalah lain pun muncul dengan alasan bahwa Maddy tumbuh tanpa seorang ibu.

Film ini diangkat dari kisah nyata Matthew Logelin yang dituliskannya pada buku Two Kisses for Maddy: A Memoir of Loss & Love.

Review Film Fatherhood (2021)

Dari trailer-nya sebenarnya sudah bisa ditebak, bahwa film ini bakal menceritakan kehidupan Matt sebagai single father. Ceritanya ringan dan plot-nya straightforward sekali. Ga ada konflik yang dramatis juga.

Film ini bergenre drama komedi. Namun demikian, alurnya cukup mengaduk-aduk perasaan. Hal-hal yang lucu dan menghibur muncul bergantian dengan hal yang bikin terharu hingga sedih. Baru awal film aja udah dibikin mewek sama scene ketika Liz meninggal.

review film fatherhood 2021

Tokoh Matthew Logelin diperankan oleh Kevin Hart. Saya ga familiar dengan Kevin Hart, tapi pas awal nonton suami saya udah mengenali dia sebagai komedian karena pernah nonton video stand up comedy-nya. 

Dengan latar komedian, saya kira peran Kevin Hart juga bakal sengaja dibikin lucu, tapi ternyata tidak. Perannya tetap serius, dan hal-hal lucu muncul dengan sendirinya dari apa yang dia lalui selama mengasuh Maddy. 

Film ini terasa terbagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama seputar fatherhood ketika masih mengurus bayi, bagian kedua ketika anaknya sudah besar. Bagian awal menurut saya lebih menarik, mungkin karena saya bisa relate juga dengan masa-masa itu. Bagian kedua terasa ada yang kurang, tapi saya juga susah menjelaskannya (mohon maaf ga jago nulis review film, hihi).

Advertisement

5 Lesson Learned dari Film Fatherhood

Dari menonton film ini saya merasa seperti dapat reminder lagi untuk sejumlah hal, terutama dari scene yang buat saya ngena banget walau cuma sekejap. Saya bakal cerita sambil menggambarkan scene-nya, jadi ini bakal ada spoiler. ^^v

Menjadi Orang Tua Bukanlah Hal yang Mudah

Bagi pasangan yang masih utuh aja, membesarkan anak itu jelas bukan hal yang mudah. Apalagi buat single parent, baik itu single father ataupun single mother. Buat single father mungkin lebih-lebih lagi beratnya, apalagi ketika harus mengurus anaknya sejak baru lahir.

Matt tahu ke depannya bakal berat, karena ia pun sempat ngomong sendiri ke Maddy yang masih bayi, “If you could have only one parent, I wish you could’ve had your mom.” T.T

review film fatherhood 2021

Saya takjub sekali melihat Matt memutuskan untuk mengurus bayinya sendiri. Padahal dia juga bekerja dan tinggal jauh dari keluarga besarnya. Akan lebih mudah baginya untuk membiarkan mertuanya yang mengasuh Maddy, tapi tentu bisa aja ikatannya jadi tidak begitu dekat dengan anaknya.

Takjub juga melihat selama beberapa tahun Matt bahkan ga kepikiran untuk mencari istri lagi, mencari ibu baru bagi Maddy. Tapi yaa perkara jodoh ini kan kadang memang cara kerjanya tak terduga ya, hehe.

Dukungan Parenting untuk Para Ayah Masih Kurang

Matt kebingungan karena Maddy menangis terus-terusan, padahal Matt udah kasih susu, udah ganti popoknya, dan sebagainya. Matt mendatangi sebuah parent support group, tapi di sana isinya ibu-ibu semua. 

Matt awalnya ditolak karena katanya grup itu untuk ibu-ibu aja. Tapi Matt berkeras bahwa di pintu ditulis “parent” dan dia juga orang tua. Akhirnya Matt bisa mendapat jawaban atas kebingungannya.

review film fatherhood 2021

Dipikir-pikir, iya ya, grup ibu-ibu seputar parenting itu ada buanyak banget ya. Kelas, seminar, atau apapun terkait parenting umumnya ditujukan bagi ibu-ibu. Sementara buat ayah rasanya ga semasif itu ya. Ada sih pasti, tapi ga sebanyak ibu-ibu. Padahal kan peran ayah dalam pengasuhan juga penting ya.

Namun di sisi lain, sebagai ibu-ibu saya juga maklum kenapa sejumlah grup itu maunya isinya ibu-ibu aja. Soalnya ada sejumlah hal terkait perempuan yang rasanya ga akan nyaman dibahas kalau ada laki-laki, hehe.

Dukungan Keluarga Besar Bagi Orang Tua Itu Penting

Dari awal, ibu Matt ataupun ibu Liz udah men-judge bahwa Matt ga akan bisa urus bayinya. Mereka ga percaya untuk membiarkan Maddy diasuh oleh Matt sendirian.

Untungnya Matt bermental baja. Dia bertekad bahwa dia bisa mengurus Maddy. Dan pada akhirnya mertuanya mengakui bahwa Matt sudah membesarkan Maddy dengan baik.

review film fatherhood 2021

Saya jadi teringat bahwa memang kata-kata dari keluarga terdekat sendiri tak jarang malah menjatuhkan, bukannya memberi dukungan. Para orang tua baru sering dianggap tidak tahu apa-apa oleh yang sudah lebih dahulu berpengalaman menjadi orang tua.

Padahal bagi orang tua baru, yang dibutuhkan itu dukungan dan bantuan, bukannya judgement bahwa dia tidak bisa apa-apa.

Dukungan Tempat Bekerja Bagi Orang Tua Juga Penting

Matt tentu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Dia butuh bekerja untuk menghidupi Maddy. Lalu bagaimana caranya?

Matt meminta pada atasannya agar ia diizinkan WFH di beberapa bulan pertama Maddy, dan dia bisa ke kantor jika dibutuhkan, namun mesti membawa Maddy.

Masalah pun tiba karena Maddy tidak henti-hentinya menangis, di saat Matt sedang presentasi ke klien kantornya. Untungnya kliennya baik, ngasih saran ke Matt bahkan memperbolehkan Matt presentasi sambil menggendong bayinya.

Ah, indahnya ya jika para orang tua bekerja bisa dapat dukungan seperti itu dari kantor. Tentu tidak semua bidang pekerjaan bisa seperti itu. Namun mestinya banyak yang bisa ya. 

Dukungan Tenaga Kesehatan Bagi Orang Tua Juga Sangat Berarti

Bagian ini sebenarnya karena scene yang sebentar saja, tapi saya langsung merinding karena dua hal.

Pertama, ketika kontrol tumbuh kembang Maddy ke dokter, dokternya nanya ke Matt, kira-kira “Kamu gimana Matt? Apa kabarmu?”. Trus Matt-nya yang langsung jawab, “Oh, ini kan bukan tentang saya…”

Dulu selama saya ngurus bayi, kalo kontrol bayi itu ga pernah deh rasanya nakesnya nanyain kondisi saya. Kontrol bayi ya fokus bahas bayi aja. Ke ibunya paling ditanya gimana ASI-nya.

Saya teringat cerita alm. Syva waktu dia melahirkan di Wellington, beda banget deh. Di sana kondisi mental ibu yang baru melahirkan itu sangat diperhatikan, jadi bisa membantu mengurangi baby blues atau depresi pasca melahirkan. Aaaah, semoga di Indonesia juga bisa segera jadi perhatian.

Kedua, Matt bilang ke dokter kalau dia sangat khawatir kalau dia selama ini ternyata tidak mengurus Maddy dengan baik. Lalu dokternya langsung motong bahwa perkembangan Maddy udah bagus dan dokternya bilang bahwa Liz pasti bangga pada Matt.

Nyess, hangat rasanya hati ini ketika dokter memuji dan menyemangati apa yang kita lakukan. Saya jadi teringat waktu dulu Akas kudu nginap di rumah sakit karena kuning, ada beberapa nakes yang kata-katanya justru bikin patah hati, huhu. Padahal kalau kata-katanya lebih bagus dan lebih suportif kan bisa bikin bahagia.

Advertisement

Beberapa Fakta Menarik dari Film Fatherhood

Karena diangkat dari kisah nyata dan ada bukunya yang ditulis oleh Matthew Logelin sendiri, saya jadi kepo soal film ini serta cerita dari tokoh aslinya. Dari hasil browsing, ada beberapa hal yang menurut saya menarik.

  • Dibanding bukunya, cerita di film ini dibuat lebih ringan dan ada unsur komedinya. Katanya kalau di buku lebih mellow. Sebelum di buku, Matt biasa menulis di blog lho!
  • Di film hubungan antara Matt dan mertuanya ditambahi bumbu-bumbu biar ada konfliknya. Aslinya mertuanya lebih suportif kepada Matt dibanding di film.
  • Di film, setelah Maddy besar, Matt dikenalkan oleh temannya dengan perempuan bernama Lizzie. Yup, mirip dengan nama mendiang istri Matt, Liz. Tadinya saya kira itu biar dramatis aja ya, ternyata aslinya Matt menikah lagi dengan perempuan yang memang bernama Lizzie. Bedanya mereka bukan dikenalkan oleh temannya.
  • Matt, Liz, dan Maddy aslinya orang kulit putih. Namun di film semua tokoh utamanya orang kulit hitam. Awalnya yang di-casting untuk jadi Matt itu Channing Tatum. Katanya diganti jadi orang kulit hitam buat sekalian meningkatkan awareness bahwa tingkat kematian ibu kulit hitam di Amerika sana masih tinggi. Juga memberikan pesan positif bahwa laki-laki berkulit hitam juga bisa menjadi ayah yang baik.

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog

Oh iya, cerita dikit. Tulisan tentang review film Fatherhood ini juga saya ikutkan ke dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog (MGN). MGN adalah komunitas blogger yang terdiri dari mamah-mamah alumni kampus gajah. 

Tiap bulan di MGN ada tantangan ngeblog dan ditentukan temanya. Saya biasanya malas ikut tantangan bertema karena sering kali temanya tidak cocok dengan apa yang biasa saya bahas di blog, hehe.

Bulan ini temanya menulis review film. Awalnya saja juga ga mau ikut karena ga tahu film apa yang bisa dibahas. Saya udah pernah nulis review tiga film di blog ini, dan kriterianya itu: film yang baru tayang (maksimal tiga bulan setelah rilis deh, hehe), yang bercerita tentang parenting atau keluarga, dan ada hikmah atau lesson learned yang saya dapat dari film itu.

Nah pas banget ketemu film Fatherhood ini dan pas juga saya lagi bingung mau nulis apa untuk tema parenting di blog ini. Mantap deh, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, hehe.

Sekian review dan catatan dari saya terkait film Fatherhood. Ada yang udah nonton? Gimana kesan-kesannya? Kalau belum nonton, berminat buat nonton ga? 😉

Salam,

Reisha Humaira

5 thoughts on “Melihat Kehidupan Seorang Single Father di Film Fatherhood (2021)

  • 30 Juni 2021 pada 21:56
    Permalink

    Tul uga. Memang diskriminasi banget yak soal ayah dan ibu aku blm jd ortu sih, tapi br nyadar juga klo jarang dengar ada kelas2 parenting buat ayah, atau aku aja yg blm tau ada sih, akun ayahasi di IG yg kocak bgt tapi serius juga isinya

    Setuju juga soal nakes Di sini jarang bgt yang berempati sm pasien. Mereka seringnya hanya fokus pada penyakit dan solusinya. Padahal pasien udh stres krn baru dibilangin ada penyakit, lalu ditambah berita dokter harus tindakan a, b, c. Pasien blm siap mental nih Bahkan aku pernah dibilangin, yg penting itu keselamatan bukan kenyamanan. Yaiya sih, tapi apa ya perlu pasien dibilangin begitu

    Balas
  • 30 Juni 2021 pada 22:42
    Permalink

    nampaknya sedia tissue nih buat jadi teman sepanjang film, dan cemilan, hehehe. aku belum baca novelnya kak, baru tahu malah film ini diangkat dari novel. aku gak ragu lagi deh mau nonton filmnya

    Balas
  • 1 Juli 2021 pada 20:44
    Permalink

    Ku kira bakal bikin mewek kya waktu nonton “The pursuit of happyness xD Ternyata Fatherhood ini lebih ringan, ada humor nya (ga serius dari awal-akhir) ^^ Sepertinya harusnya baca bukunya biar lebih “berasa” dramanya, hihi..

    Balas
  • 1 Juli 2021 pada 22:05
    Permalink

    Duh yang ditulis teteh diatas banyak banget yang sama dengan yang aku pikirkan. Seperti bapak bapak tidak diberi kesempatan belajar untuk jadi orang tua dan mental health orang tua terutama ibu yang kadang tidak terperhatikan. Makasih teh reviewnya. Sudah tertarik nonton tapi nggak sempat2 saja nih ‍♀️

    Balas

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: