Persiapan Pernikahan E♡R: Met The Families

Pernikahan jelas bukan hanya penyatuan dua manusia, melainkan juga penyatuan dua keluarga besar. Saya sudah pernah bertemu beberapa anggota keluarga Evan saat Evan wisuda S1. Sementara hingga saya lulus S2, keluarga saya belum pernah bertemu langsung dengan Evan. Setelah lulus dan kembali ke Indonesia, waktunya untuk kenal dan lebih dekat lagi dengan keluarga dari kedua belah pihak. Karena faktor jarak juga, frekuensi ketemu langsung memang ga bisa sering-sering.

6 April 2013

Saya kembali ke Indonesia dan langsung menuju Bandung pada tanggal 31 Maret. Di Bandung, agenda utama saya adalah mencari kosan karena saya berencana cari kerja di Bandung. Setelah dapat kosan saya langsung pulang kampung karena tanggal 6 April Evan akan silaturrahim ke rumah saya untuk pertama kalinya.

Hari itu Evan datang sendirian dari Padang. Tujuan utama pertemuan kali ini sih memang supaya keluarga saya bisa lihat dan mengenal langsung Evan itu seperti apa. Evan orangnya gampang ngobrol sih, jadi saya ga kuatir, pasti bisa lah ngobrol banyak sama keluarga saya. Dan nyatanya memang gitu, hoho. Ada 5 jam kayaknya Evan di rumah saya.

Sebelum pulang Evan pun langsung bilang ke orang tua saya bahwa dia serius sama saya. Wow. Ga nyangka dia bilang itu, saya kira silaturrahim ya sekedar ngobrol biar lebih kenal orangnya aja, huehe. Mama saya pun juga ga nyangka. Tapi yaa alhamdulillah dari keluarga saya langsung sreg sama Evan.

25 Mei 2013

Evan sudah ke rumah saya, gantian saya yang silaturrahim ke rumahnya. Biar bisa langsung kenal antara dua keluarga, saya pun datang ke rumah Evan bersama orang tua, adik, dan beberapa om dan tante saya. Deg-degan juga. Kalau datang sendiri kayak Evan saya ga sanggup deh rasanya. Saya yang susah ngomong sama orang apalagi kalo baru pertama ketemu ini bisa mati kutu ntar.

Karena judulnya silaturrahim aja, dalam bayangan saya ya kayak waktu Evan ke rumah aja. Bertamu, makan, ngobrol-ngobrol. Eh taunya di rumah Evan keluarga besarnya ngumpul dan udah gelar makanan di atas seprah (kain putih panjang tempat meletakkan hidangan), kayak di acara baralek (perhelatan) aja. Makin deg-degan deh. Mama saya pun juga ikut deg-degan karena ini juga pertama kalinya buat beliau.

Karena mamak (saudara laki-laki ibu di Minangkabau) saya dan Evan ada di situ, langsung deh ada pembicaraan tentang status kami. Evan ditanya, dan Evan pun memberi penjelasan tentang keseriusannya. Selanjutnya saya ditanya, saya ga tau mau ngomong apa, lalu bengong aja. Akhirnya mama saya yang mewakili menjawab. Hahaha. Parah abis. Tapi saya bener-bener kuatir jadinya waktu itu karena ga ngomong apa-apa gitu. Abisnya ga nyangka juga sih bakal ditanya di forum keluarga kayak gitu, fufufu. Tapi untungnya dimaklumi sih. Beruntunglah ada pepatah “diamnya perempuan itu berarti iya”, hihihi.

PR dari pertemuan ini adalah kami harus mulai memikirkan tanggal pernikahan.

13 Agustus 2013

Lebaran tahun 2013 kebetulan Evan tidak dapat off sehingga tidak bisa Lebaran di Padang. Dan setelah Lebaran pun Evan langsung terbang ke Scotland untuk training dari Schlumberger. Walau Evan ga ada di Padang, saya dan keluarga silaturrahim lagi ke sana.

Kali ini agenda utamanya adalah menetapkan tanggal pernikahan dan membahas apa saja yang perlu disiapkan nanti (terutama panjapuik marapulai) dan bagaimana garis besar prosesi terkait. Di Minangkabau, keluarga pihak perempuanlah yang akan meminang ke keluarga pihak laki-laki. Secara tidak langsung, dari pihak keluarga saya juga lah yang mesti proaktif.

Selain itu, berhubung orang tua saya akan naik haji dan nanti akan ada pengajian dan syukuran di rumah, orang tua saya sekaligus mengundang keluarga Evan untuk datang ke rumah saya. Acaranya direncanakan tanggal 14 September dan Evan juga sudah kembali ke Indonesia tanggal segitu.

14 September 2013

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, kali ini keluarga besar Evan yang datang ke rumah saya untuk pertama kalinya bersama Evan. Saat itu karena acaranya syukuran, tentunya makan-makan dulu. Tamu yang datang ke rumah rame juga saat itu, tentulah ga mungkin ngomongin tentang saya dan Evan di dekat tamu-tamu itu, hehe. Untungnya rumah mama dan adiknya (kami panggil “ibuk”) sebelahan, jadi kita migrasi ke rumah sebelah untuk ngomongin pernikahan. Ga banyak juga sih yang diomongin. Itu pun kebanyakan perihal tanggal pernikahan dan panjapuik marapulai lagi.

19-20 November 2013

Tanggal 20 November 2013 sudah kami jadwalkan untuk ikut penasihatan pra-perkawinan di KUA Kec. Baso (tempat tinggal saya). Kata mamak saya, acaranya dimulai jam 8 pagi. Ga memungkinkan buat Evan naik kendaraan umum pagi-pagi dari Padang kalau mesti sampai jam 8 di Baso. Akhirnya disepakati Evan berangkat sore hari sebelumnya aja lalu nginap di Baso. Nginapnya ga di rumah saya tentunya, melainkan di rumah ibuk di sebelah. Another good time biar bisa lebih dekat lagi sama keluarga saya, hoho.

21-22 Desember 2013

Evan pernah meminta kepada saya, kalau bisa sebelum kami menikah, saya ziarah dulu ke pusara papa dan mama Evan. Alhamdulillah diingatkan. Tanggal 19 Desember 2013 saya pulang dari Bandung, dan saya langsung mengagendakan kunjungan saya ke Padang ke keluarga Evan. Tanggal 21 sore saya berangkat ke Padang, menuju rumah Evan yang sekarang hanya ditempati oleh dua adik perempuan Evan, Litha dan Mira. Menginap di sana, esok siangnya langsung berkunjung ke nenek serta para om dan tante Evan yang berdomisili di Padang, ditemani Litha. Oia sempat mengurus pakaian akad nikah Evan juga yang rada bermasalah (cerita menyusul nanti :P). Sorenya ziarah ke pusara papa dan mama Evan.

Seumur-umur saya ga pernah ketemu dengan kedua orang tua Evan. Mama Evan meninggal tahun 2009, papa Evan meninggal tahun 2010. Tapi Evan dulu pernah memperlihatkan foto saya ke mamanya. Moga kelak bisa dipertemukan di surga-Nya, aamiin.

Salam,

signature

Leave your comment