Sekilas Tentang UoA Early Childhood Centre, Sekolah Pertama Akas di Auckland

Minggu lalu saya udah cerita gambaran pendidikan anak untuk usia dini di New Zealand. Kali ini saya mau cerita lebih lanjut soal preschool atau sekolah Akas yaa. Baca dulu aja tulisan sebelumnya biar nyambung, hihi.

Baca juga: Tentang Pendidikan untuk Anak Usia Dini di New Zealand

Mencari Sekolah untuk Akas di Auckland

Sebelum pindah, kami sudah berencana untuk memasukkan Akas ke sekolah di Auckland. Tapi ke mana?

Dari suami saya tahu bahwa kampus suami saya, The University of Auckland (UoA), punya beberapa early childhood centre. Saya cek website-nya, tapi saya bingung milih yang mana. Saat itu kami juga belum tahu bakal tinggal di mana, pengennya dapat sekolah yang dekat dari rumah, jadi soal cari sekolah baru diurus setelah Akas dan saya datang ke Auckland.

Baca juga: Penerbangan Jakarta-Auckland Berdua dengan Akas

Yap, waktu itu pertimbangan utama buat sekolahnya hanya jarak. Soal sekolahnya kayak apa, kurikulum, metode, dan sebagainya saya ga terlalu ambil pusing karena setahu saya kualitas sekolah di New Zealand itu sama. Ga kayak di Indonesia yang bervariasi sekali, dari jelek banget hingga bagus banget ada, hehe.

Lalu di samping jarak, saya juga cuma kepikiran milih di antara early childhood centre milik kampus UoA. Sebenarnya ada sekolah lain (kindergarten) juga tak jauh dari apartemen kami, cuma entah kenapa saya merasa mending yang milik kampus aja.

Dari beberapa pilihan centre yang tersedia, saya cek di Google Maps, yang paling dekat adalah Symonds Street Early Childhood Centre. Tapi di sana itu waiting list-nya panjang sekali. Kapasitasnya terbatas sedangkan peminatnya banyak, mungkin karena lokasinya. Kalau saya kekeuh maunya Akas di situ, entah kapan Akas bisa masuk. Teman di sini aja ada yang nunggu waiting list-nya sampai 1 tahun. Sementara saya butuh Akas bisa segera sekolah, biar saat Akas di sekolah saya bisa kerja.

Baca juga: Kerja Remote dari Middle Earth, Seperti Apa Rasanya?

Oia waiting list itu bukan karena tahun ajaran atau term di sekolah ya. Jadi centre itu menerima anak dari bayi hingga usia 5 tahun. Kalau si anak udah 5 tahun, dia bakal keluar, dan itu bisa terjadi kapan saja kan, tergantung ulang tahunnya. Saat ada yang udah lulus gitu, artinya ada yang bisa masuk. Bisa dibilang untung-untungan juga, kalau pas daftar pas ada anak yang mau keluar, ya bisa cepet masuknya. 

Kami beralih ke pilihan lain, yakni Te Ako o Te Tui Early Childhood Centre. Secara jarak masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 20 menit. Atau bisa juga naik bus 1x ke sana. Dan rupanya ada beberapa teman Indonesia juga yang anaknya sekolah di situ. 

Kami mengisi waiting list form yang ada di website kampus pada awal April lalu. Ditunggu beberapa hari, ga ada balasan sama sekali. Suami lalu mencoba kirim email ke sana. Lalu tidak lama kemudian suami ditelepon oleh pihak sekolah, mengabarkan bahwa Akas bisa masuk dan ditanya kapan mau datang ke sana.

Saat datang pertama kali ke sana, Akas main sebentar sekalian lihat-lihat sekolahnya. Suami urus pendaftaran, ada form yang mesti diisi lagi. Isinya data pribadi anak, orang tua, jadwal sekolah, dan beberapa consent seperti apakah anak boleh difoto atau divideokan. That’s all. Akas pun resmi terdaftar di sana.

Seperti Apa Sekolahnya?

Kalau nanya begini, biasanya orang ekspektasi jawaban seperti apa ya? Hehe. Saya jelasain per poin aja ya, semoga bisa menjawab.

Bangunan dan Area Bermain

Te Ako o Te Tui Early Childhood Centre bisa dibilang centre terbaru milik UoA. Dulunya bernama Grafton Childcare Centre, direnovasi tahun lalu, dan jadilah Te Ako yang sekarang. Pertama lihat fotonya, saya merasa wow, karena bangunan dan semua di dalamnya masih baru. Luas pula.

Dari depan tampaknya biasa saja. Ga berasa sekolah juga karena di halaman depan cuma ada parkiran dan ga kelihatan apa isi di dalam bangunan.

Bagian depan sekolah (Sumber: Jasmax)

Di dalamnya ternyata berupa satu ruang terbuka yang sangat luas. Ga ada kelas atau sekat-sekat. Semua anak main di ruangan yang besar itu. Areanya hanya dibedakan untuk anak di bawah 2 tahun dengan anak di atas 2 tahun, tapi itu pun masih tersambung ruangannya, ga ditutup.

Bagian tengah sekolah (Sumber: Jasmax)

Di tengah ruangan besar itu ada sejumlah rak yang berisi berbagai mainan. Anak-anak bebas memilih mau main apa. Lalu ada sejumlah meja kursi kecil untuk anak-anak, dipakai sesuka mereka saja.

Fasilitas indoor di sekolah (Sumber: Jasmax)
Area dapur (Sumber: Jasmax)

Lalu di sisi samping masih ada area bermain outdoor yang juga luas. Pintu ke area outdoor selalu dibuka, kecuali saat cuaca kurang baik. Jadi anak-anak pun bebas milih mau main di mana.

Area outdoor di sekolah (Sumber: Jasmax)

Sekolah Multikultural

Centre milik kampus, mengutamakan menerima anak dari mahasiswa atau staf dari kampus UoA. Karena di Auckland ini banyak sekali pendatang, anak-anak di sekolah pun beragam sekali. Berbagai ras, berbagai warna kulit ada. Guru-guru di sekolahnya pun beragam sekali. Centre Leader-nya orang India. Guru lainnya yang saya tahu ada orang Kiwi, India, Korea, Tiongkok, dll.

Keberagaman budaya anak-anak di sekolah ini juga dihargai sekali. Salah satunya dengan mengadakan perayaan untuk hari-hari besar tertentu. Misal ada eid celebration di sana saat Idul Fitri lalu. Dan pada saat perayaan itu para orang tua biasanya diundang untuk hadir dan makan-makan di sana.

Baca juga: Idul Adha 1440 H (2019) di Auckland

Presentasi tentang Idul Fitri

Jadwal Sekolah

Sekolah ini pada dasarnya adalah childcare. Ada beberapa opsi jadwal yang bisa kita pilih, mulai dari sesi 4 jam, sesi 6 jam, full day, dan full week. Jadi bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita aja. Ga mesti ikut tiap hari. Ikutnya pun boleh beda-beda jam. Tapi harus ikut minimal 2x sesi 4 jam dalam seminggu.

Akas ikut sesi 4 jam tiap hari Senin-Jumat. Bisa pilih mau sesi pagi atau siang, dan kami memilih sesi siang saja. Pertimbangannya karena biaya dan karena berencana gabung playcentre juga, yang mana jadwalnya selalu pagi.

Dalam 1 tahun, jadwal sekolah di New Zealand biasanya dibagi ke dalam 4 term. Dan di antara tiap term bakal ada school holiday. Tapi di centre milik kampus ini, ga ada liburnya, jadi anak tetap masuk saat school holiday. Buat saya untung banget sih ga ada liburnya, karena saya kan ga libur kerja juga saat school holiday itu, haha. Jadwal libur kampus pun beda dengan jadwal libur anak sekolahan.

Makanan dan Camilan

Tadinya saya kira kita bisa bawa bekal sendiri ke sekolah ini, ternyata tidak boleh. Jadi anak hanya makan makanan yang disediakan oleh sekolah. Di form pendaftaran ada isian tentang makanan, apakah anak ada alergi dan sebagainya. Kami hanya mengisi halal food, mereka bisa sediakan katanya. Dan memang ada beberapa anak muslim juga di sana, ga cuma dari Indonesia.

Dalam satu hari, ada 3x sesi makan, yakni morning tea (snack pagi), lunch (makan siang), dan afternoon tea (snack sore). Akas ikut sesi siang, jadi dia cuma ikut afternoon tea di sana.

Biaya Sekolah

Kenapa Akas masuk sekolahnya siang? Nah itu ada kaitannya dengan makanan dan biaya, hehe.

Dalam seminggu Akas total sekolah 20 jam di sana. Kami menggunakan semua jatah 20 Hours ECE, sehingga sekolahnya gratis. Sekolah sih gratis, tapi tidak dengan makanannya, huhu. Makanya gemes rasanya pas tahu di sana ga boleh bawa bekal. Pengennya kan ga ada biaya lain, heuheu.

Kalau Akas ikut sesi pagi, maka dia bakal dapat morning tea dan lunch di sana. Bayarnya NZ$5/hari kalau ga salah. Sementara kalau afternoon tea saja, bayarnya NZ$2/hari. And now you can conclude why we chose afternoon session. Haha.

Oia biaya sekolah ini juga tergantung umur anak ya. Kalau anak di atas 3 tahun, ada jatah 20 Hours ECE. Tapi untuk anak di bawah 3 tahun ga ada subsidi, jadi mesti bayar full. Biayanya pun beda antara anak di bawah 2 tahun dengan anak 2-3 tahun. Bisa cek biayanya di sini yaa.

Perlengkapan yang Dibawa ke Sekolah

Akas karena udah lulus toilet training cuma butuh bawa satu set pakaian ganti ke sekolah. Buat jaga-jaga kalau sewaktu-waktu pakaiannya kotor atau basah atau ngompol.

Baca juga: Cerita Toilet Training Akas (2): Proses dan Lesson Learned

Lalu sejak masuk musim semi ini anak-anak diwajibkan pakai sunblock dan bawa topi. Anak-anak mesti pakai topi kalau main di luar ruangan karena sinar UV di sini ini ternyata tinggi banget, yang mana ditengarai sebagai penyebab banyaknya kasus kanker kulit di New Zealand.

Kegiatan Sekolah

Kalau tanya Akas di sekolah ngapain aja, dia bakal jawab main aja. Hehe.

Saya kurang tahu detail kegiatan di sekolahnya seperti apa, karena selama di sekolah, Akas full sama gurunya, saya cuma antar jemput. Tapi kalau lihat sekilas saat saya antar atau jemput Akas, memang anak-anak di sana main aja. Main apapun yang mereka suka.

Sering juga saya lihat gurunya bacain buku buat anak-anak. Read aloud gitu deh. Anak-anak berkumpul di sekeliling gurunya.

Kadang ada juga kegiatan yang sudah diatur oleh gurunya. Misal saat Mother’s Day lalu anak-anak diminta menggambar di sebuah kartu yang akan diberikan kepada ibu masing-masing.

Saat makan, anak-anak duduk bersama. Sebelum makan mereka melakukan karakia alias berdoa dalam bahasa Māori. Buat yang muslim, sempat di-warning sama teman di sini, karena karakia-nya menyebut-nyebut dewa bangsa Māori. Dulu saya cuek karena Akas juga ga nangkep kata-katanya. Tapi saat dia mulai meniru, akhirnya saya bilangin jangan ditiru, baca bismillah dan doa secara Islam aja.

Kalau mau tahu detail kegiatan anak di sekolah, bisa tanya ke gurunya di sana. Tapi saya seringnya mager nanya, haha. Informasi lainnya biasanya diberikan lewat newsletter dan laporan di sistem Educa, serta informasi tertulis di papan pengumuman di dekat pintu masuk sekolah.

Di Educa biasanya juga ada learning stories khusus anak kita yang ditulis oleh gurunya. Tapi sayangnya jaraaaang sekali dapetnya, heuheu. Selama 6 bulan di sekolah, saya baru 2x dapat learning stories Akas, haha.

Segitu dulu yang kepikiran untuk ditulis soal sekolah Akas. Bingung mau nulis apa lagi. Kalau ada pertanyaan, silakan yaa. Mungkin nanti bisa saya tambahin juga ke tulisan ini, hehe.

Salam,

Reisha Humaira

5 tanggapan untuk “Sekilas Tentang UoA Early Childhood Centre, Sekolah Pertama Akas di Auckland

  • 4 Oktober 2019 pada 17:29
    Permalink

    Baca ini tuh jadi terasa waw. Pembuktian bahwa anak-anak jika sedari kecil sudah terbiasa melihat dan berada di lingkungan yang multiras, memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik dari anak lain yang belum pernah berada di situasi tersebut. Rasanya pengen baca-baca lagi kisah Mak tentang sekolah Akas.

    Balas
    • 8 Oktober 2019 pada 08:59
      Permalink

      Benar juga ya mbak. Mereka yang terbiasa dengan multiras juga kayaknya bakal lebih toleran ya, karena sudah merasa bahwa apapun warna kulitnya, dari mana pun asalnya, ya mereka sama aja. Ga ada yang lebih superior.

      Insya Allah masih bakal ada cerita-cerita lain soal sekolah Akas mbak. Stay tuned ya, hihi.

      Balas
  • Pingback:Sekolah Pertama Akas di Auckland – Blogger Perempuan

  • 7 Oktober 2019 pada 21:30
    Permalink

    Saya juga lagi cari-cari pre school buat anak saya. Kisahnya mbak Reisha jadi pandangan nih buat saya. Salam kenal ya, saya juga lagi mendampingi suami lanjut sekolah di luar Indonesia ^^

    Balas
    • 8 Oktober 2019 pada 09:03
      Permalink

      Salam kenal juga mbak. Wah, semoga segera dapat yang cocok ya mbaaak sekolahnya 🙂

      Balas

Leave your comment