Tentang Musim Semi di Auckland

Spring alias musim semi di New Zealand berlangsung pada bulan September hingga November. Yes, berkebalikan dengan negara-negara di belahan bumi utara yang sedang mengalami musim gugur di periode tersebut.

Secara umum, di musim semi, pohon-pohon yang tak berdaun di musim dingin, mulai tumbuh lagi dedaunannya. Begitu pula bunga-bunga. Seiring dengan cuaca yang berubah jadi lebih hangat, pemandangan di luar pun ikut tampak hangat dengan kehadiran daun-daun dan bunga.

Seperti Apa Musim Semi di Auckland?

Ah saya bingung mau kasih pengantar apa, hahaha. Langsung aja deh ya ke poin-poinnya.

Suhu Udara yang Perlahan Menghangat

Satu hal yang menyenangkan ketika musim dingin berakhir itu adalah: udara akan kembali menghangat, yay! Sebagai warga asli negara tropis, percayalah ga bakal senang deh kalau terlalu lama menghadapi udara dingin, hihi.

Namun demikian, jangan harap di bulan September udaranya udah langsung hangat. Masih dingin tentu saja. Seingat saya baru di bulan Oktober mulai terasa ada perubahan, di mana jaket tebal yang biasa dipakai di musim dingin udah bisa diganti dengan jaket lain yang lebih tipis. 

Di bulan Oktober ini suhu tertinggi harian udah masuk kisaran 16-18°C. Sesekali pernah mencapai 20°C. Bulan November barulah terasa benar-benar hangat, karena suhu tertinggi di siang hari bisa mencapai 22-24°C. Dan akhirnyaaa bisa bepergian tanpa jaket deh di bulan November itu, horeee.

Buat yang udah terbiasa dengan udara Indonesia, suhu segitu pasti masih terasa dingin. Tapi buat yang sebelumnya udah tinggal dengan musim yang dingin, suhu segitu sudah terasa hangat. Suhu di atas 22°C malah rasanya gerah, wkwk.

Cuaca Juga Membaik Dibanding Musim Dingin

Di tulisan sebelumnya saya pernah nulis, salah satu hal yang ga mengenakkan dari musim dingin di Auckland adalah cuaca yang sering hujan dan berangin.

Baca juga: Tentang Musim Dingin di Auckland

Di musim semi ini, frekuensi hujan turun sudah banyak berkurang. Jadi kita bakal lebih banyak nemu langit biru cerah atau berawan. Tapi kalau beranginnya sih masih. Di bulan Oktober itu masih butuh jaket justru karena anginnya sih. Jaket tipis pun cukup sebenarnya, yang penting jaketnya tahan angin. Mending pakai jaket tipis tahan angin daripada jaket tebal tapi ga tahan angin.

Waktunya ke Festival Bunga-Bunga

Musim semi identik dengan bunga-bunga. Tapi di awal-awal musim semi di Auckland ini, saya ga merasakan hype-nya seperti halnya musim semi di Jepang dulu. Baru di bulan Oktober mulai kerasa bahwa ini tu udah musim semi. Yang paling menarik perhatian saya adalah cherry blossom-nya, sampai dijabanin datang ke lima tempat berbeda, wkwk. Udah saya tulis minggu lalu.

Baca juga: 5 Lokasi Terbaik untuk Melihat Cherry Blossom di Auckland

Beberapa tempat ada yang mengadakan festival bunga-bunga. Berhubung saya ga banyak cari info, saya tahunya hanya cherry blossom festival di Cornwall Park dan Fo Guang Shan Temple, serta rose festival di Parnell Rose Garden. Buat yang tinggal di sekitaran City Centre, Parnell Rose Festival ini bagus untuk didatangi. Kebun-kebun mawarnya lumayan luas, bagus-bagus juga bunganya. 

Daylight Saving Time (DST) Dimulai

New Zealand adalah salah satu negara yang mengalami DST. Apa itu DST? Duh saya juga bingung jelasinnya gimana, Googling aja ya, wkwk. Atau baca tulisan ini.

Yang penting diketahui mah, saat DST dimulai, maka jam (clock) kita majukan 1 jam (1 hour). (Biar ga bingung dengan pengulangan kata jam, wkwk). Lalu saat DST berakhir, waktu kembali kita mundurin 1 jam. Kalau di laptop atau HP yang waktunya diset automatic, jam akan berubah dengan sendirinya. Sementara untuk jam tangan atau jam dinding, perlu kita ubah secara manual.

Tahun 2019 ini, DST di New Zealand dimulai pada tanggal 29 September 2019 pukul 02.00 am. Jadi ketika waktu menunjukkan pukul 01.59, 1 menit kemudian adalah jam 03.00, bukan jam 02.00. Menarik juga pas lihat perubahan ini di HP. Waktu itu saya kebetulan masih bangun (kalong memang heuheu) dan rada kepo berubahnya gimana, hihi.

Karena DST ini, selisih waktu dengan Indonesia (WIB) bertambah menjadi 6 jam. Berasa makin jauh aja jarak New Zealand ini dari Indonesia, wkwk. Biasanya beda 5 jam aja, sekarang jadi 6 jam.

Hal yang ga mengenakkan buat saya di awal-awal DST ini adalah: bikin disorientasi waktu, terutama waktu shalat. Ya bayangin aja. Hari-hari sebelumnya tu waktu shalat masih mirip-mirip dengan waktu di Indonesia, misal Subuh 04.30, Dzuhur 12.15, Ashar 15.45, Maghrib 18.20, Isya 19.45. Masih terasa normal. Tapi besoknya langsung aja drastis ganti jadi Subuh 05.30, Dzuhur 13.15, Ashar 16.45, Maghrib 19.20, Isya 20.45. Biasanya kan jam shalat itu berubahnya bertahap, selisih satu atau beberapa menit.

Tapi yaa lama-lama bakal terbiasa juga. Ntar siap-siap aja kaget lagi pas DST berakhir tanggal 5 April 2020, haha.

Tiap Hari Mulai Wajib Pakai Sunblock

Sunblock atau sunscreen ya istilahnya yang lebih tepat? Mbuh. Itu lah pokoknya, haha. Di sini orang-orang lebih sering nyebut sunblock.

Saya bukan fans sunblock untuk badan, malah tergolong males pakai krim-krim gitu di badan. Bandel memang, heuu. Tapi di New Zealand ini, sunblock rupanya jadi benda wajib, terutama di musim panas.

Saya baru mulai merasa diwajibkan soal sunblock ini sejak sekolah Akas mengharuskan anak-anaknya untuk memakai sunblock dan topi di sekolah, terutama saat ada kegiatan outdoor. Dulu pas musim masih dingin mah ga pernah diwajibkan. Akas pun ga pernah pakai topi.

Kenapa harus pakai topi dan sunblock? Tampaknya karena kasus kanker kulit di New Zealand itu tinggi sekali. Penyebab kanker kulit katanya karena terlalu banyak kena radiasi sinar ultraviolet (UV). Dan anak-anak itu lebih vulnerable terhadap radiasi UV dibanding orang dewasa. Sementara di New Zealand, level UV-nya paling tinggi saat summer, diikuti autumn dan spring. Baiklah.

Pakai sunblock buat diri sendiri sih ga masalah ya. Yang bikin ribet karena harus makein sunblock ke anak, wkwk. Apalagi saat berangkat ke sini saya udah bawa sunblock dari Indonesia (berhubung katanya di sini mahal, huh), dan ternyata sunblock-nya kental, jadi lama pakeinnya, heuu. Tahu gitu beli yang lebih encer aja.

Baca juga: Daftar Barang yang Perlu Dibawa untuk Tinggal di Luar Negeri

Waspada Masalah pada Kulit atau Pernapasan

Baru setelah tinggal di Auckland ini saya merasa ternyata musim semi itu bisa tidak menyenangkan juga. 

Awal mulanya karena tiba-tiba aja di kulit Akas banyak muncul ruam atau bintik-bintik merah, terutama di bagian kaki di bawah lututnya. Tadinya kirain karena biang keringat, atau kotor karena dia hampir tiap hari main pasir di sekolahnya, sering nyeker pula, wew. Karena kelihatan udah parah, saya coba bawa Akas ke dokter.

Diagnosis dokternya, Akas kena eczema. Agak kaget juga karena selama ini tuh Akas ga ada riwayat alergi, begitu pula saya dan suami. Tapi kata dokter bisa aja Akas baru ketemu pemicunya setelah di sini, apalagi di musim semi gini biasanya pemicunya adalah pollen alias serbuk bunga yang memang pada bermekaran di musim semi. Dan tumbuhan di sini kan beda dengan di Indonesia.

Dari hasil Googling, mungkin eczema yang dimaksud adalah plant dermatitis. Saya amati memang bagian tubuh Akas yang ada ruam itu hanya bagian tubuhnya yang tidak tertutup oleh pakaian. Sejak musim berganti ini Akas biasa pakai celana selutut, sebelumnya celana panjang melulu.

Di sisi lain, di waktu hampir bersamaan, saya sempat bersin-bersin ga jelas selama beberapa hari. Saya bilang ga jelas, karena bersinnya beda dengan bersin yang biasa saya alami kalau mau batuk atau pilek. Hidung terasa perih tapi coba keluarin ingus hasilnya bening (kalau bakal pilek biasanya kekuningan).

Saya jadi teringat dengan kafunsho yang sering melanda penduduk Jepang. Ga hanya orang Jepang asli lho, tapi juga pendatang yang berasal dari negara lain. Tersangkanya adalah serbuk sakura. Di Auckland biasanya dikenal dengan nama hay fever. Gejalanya ya begitu, bersin-bersin, batuk, hidung perih atau gatal, mata memerah, dkk.

Apakah saya terkena hay fever? Entahlah. Saya ga pernah cek ke dokter soalnya, ahaha. Alhamdulillah setelah beberapa hari bersin-bersinnya hilang.

Demikian cerita tentang musim semi yang kami lalui di Auckland. Semoga bermanfaat yaa, hehe.

Salam,

Reisha Humaira

3 thoughts on “Tentang Musim Semi di Auckland

  • 12 Desember 2019 pada 08:52
    Permalink

    Seru bisa lihat cherry blossom berbagai tempat. Tentang UV waktu kesana diceritakan bahwa ada hubungannya dg ozon di bag kutub selatan dekat NZ yg sdh terbuka. Benar spt itu kah? Cmiiw ya…

    Balas
  • 5 Januari 2020 pada 14:02
    Permalink

    Memabaca musim semi saja mood saya langsung membaik…fell much better!
    Salam kenal

    Balas
    • 6 Januari 2020 pada 21:45
      Permalink

      Hehe. Halo mas, salam kenal juga.

      Balas

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: