Tentang Musim Gugur di Auckland

Saya baru teringat kalau saya belum menulis tentang musim gugur di Auckland, padahal cerita tentang musim dingin, musim semi, dan musim panas udah ditulis dari zaman kapaaan, hehe. Musim gugur di New Zealand berlangsung dari bulan Maret hingga Mei. Pas banget lagi musim gugur nih sekarang.

Sesungguhnya saya merasa saya itu tidak terlalu berjodoh dengan musim gugur di Auckland, padahal dari pengalaman tinggal di Jepang dulu, musim gugur adalah musim yang paling saya sukai.

Saya dan Akas sampai di Auckland pada akhir Maret 2019 dan saat itu sedang musim gugur. Tapi karena masih baru banget tinggal di sana, saya pun bingung di mana bisa menikmati suasana musim gugur seperti yang ada di memori saya. Setelah beberapa bulan di Auckland, barulah saya browsing mencari info dan memasukkannya ke to do list musim gugur berikutnya.

Musim gugur 2020 bersamaan dengan datangnya pandemi COVID-19. Pemerintah New Zealand melakukan lockdown skala nasional, kami pun lebih banyak di rumah saja dan tidak berani melanggar aturan pemerintah. To do list yang sudah dibuat tahun sebelumnya pun mesti dikhlaskan.

Baca: New Zealand Bisa Menekan Penyebaran COVID-19, Bagaimana Caranya?

Sekarang sudah musim gugur lagi, tapi kaminya udah balik ke Indonesia sejak bulan lalu, haha. Jadi yaa gitu deh, kenangan musim gugurnya ga banyak, hehe.

Seperti Apa Musim Gugur di Auckland?

Langsung aja deh ya dengan gambaran musim gugurnya, hehe.

Suhu Udara Kembali Sejuk

Hal yang bikin saya nyaman dengan musim gugur adalah suhu udaranya yang kembali sejuk setelah gerahnya musim panas. Musim panas di Auckland sebenarnya tidak terlalu panas, tapi saya sendiri dari dulu memang tidak suka dengan udara panas. Yaa mungkin karena saya lahir dan besar di daerah pegunungan ya, lalu cukup lama tinggal di Bandung, jadi sukanya ya dengan udara yang sejuk, hehe.

Suhu udara kalau ga salah berada di kisaran 20°C. Kadang terasa agak dingin karena Auckland itu lumayan berangin dan cuaca sering berubah dengan cepat, jadi udah butuh jaket tipis.

Daun-Daun Berguguran

Ini sih udah jelas ya, mau di manapun, musim gugur ya identik dengan daun-daun pepohonan yang berguguran. Namanya juga musim gugur. Tapi buat saya, ini ceritanya bisa agak panjang #halah.

Dulu di Jepang yang bikin saya jatuh cinta dengan musim gugur adalah merahnya pohon momiji dan kuningnya pohon ginkgo. Saya masih ingat dengan masa-masa ketika hiking ke Mt. Takao dan bertemu dengan banyak sekali pohon momiji yang daunnya berubah warna. Saya masih terbayang dengan perbukitan yang diselimuti pohon warna-warni hijau, kuning, oranye, hingga merah ketika hiking di Oze. Saya masih ingin bertemu barisan pohon ginkgo yang dedaunannya membentuk karpet kuning indah di bawahnya.

Seberkesan itu musim gugur buat saya, jadi ketika pindah ke Auckland saya punya harapan bakal ketemu pemandangan musim gugur yang indah lagi. Minus pohon momiji tentunya karena itu khas di Jepang. Tapi awal-awal tinggal di Auckland, yang saya temukan di sekitar tempat tinggal kami saat itu adalah pepohonan yang daun-daunnya lebih banyak berwarna kecoklatan dan kering. Ah, musim gugur di Auckland ternyata tidak cantik, pikir saya.

Hasil browsing spot autumn leaves di Auckland juga sebenarnya tidak membuahkan banyak hasil. Ada nemu foto pohon ginkgo di Cornwall Park, tapi ga tahu juga lokasi persisnya di mana, padahal Cornwall Park itu luas banget, wkwk. Dan lokasinya cukup jauh dari apartemen kami, jadi waktu New Zealand masih lockdown saya juga ga berani ke sana. Sementara untuk bukit berselimutkan autumn leaves yang saya temukan itu ada di Arrowtown, yang berada nun jauh di South Island sana, wkwk.

Baca: Itinerary dan Biaya Road Trip dengan Campervan di South Island, Winter 2019

Namun di tengah kesunyian Auckland saat lockdown pandemi, ketika berjalan di daerah sekitaran apartemen, saya merasa menemukan pemandangan berbeda dari musim gugur di Auckland. Daun-daun yang dulu terlihat kecoklatan jelek, kali ini tampak kuning cantik. Dipadu dengan langit New Zealand yang biru bersih, walau hanya sedikit, rasanya saya menemukan pemandangan yang dulu saya cari-cari.

Dipikir-pikir, sepertinya dulu itu salah saya yang pasang ekspektasi ketinggian. Urusan pepohonan dan bebungaan, Jepang memang lebih juara sih dibanding New Zealand, hehe. Timing juga sepertinya ngaruh. Ketika lockdown dan lebih banyak di rumah aja, berjalan di luar dan melihat pemandangan yang indah dan bersih itu rasanya jadi luar biasa.

musim gugur di auckland tahun 2019
Musim gugur 2019 yang tidak begitu berkesan karena ekspektasi ketinggian

Ish malah jadi curcol panjang lebar. Yaa intinya sih di Auckland juga ada pemandangan musim gugur yang bagus, tapi umumnya pohon-pohon yang berubah warna itu dikit aja, kadang juga cuma ada satu di antara pohon-pohon lain yang masih tetap hijau, hehe.

Daylight Saving Time (DST) Berakhir

Di hari Minggu pertama di bulan April, DST pun berakhir. Jam (clock) pun kembali dimundurkan 1 jam (1 hour). Perbedaan waktu dengan WIB pun kembali jadi 5 jam.

Saya tidak terlalu merasakan efek DST dalam kehidupan saya selain yang terkait waktu shalat. Ketika DST berakhir ini, waktu shalat pun terasa kembali normal. Normal dalam artian jamnya mirip-mirip dengan waktu shalat di Indonesia, hehe.

Demikian cerita tentang musim gugur yang kami lalui di Auckland. Akhirnya selesai juga tulisan tentang keempat musim ini, yay. Semoga bermanfaat yaa.

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: