5 Tipe Orang Tua, Kamu Tipe yang Mana?

Tiap orang memiliki karakter yang berbeda, dibesarkan di lingkungan yang berbeda pula. Alhasil ketika menjadi orang tua, gaya pengasuhan yang diterapkannya pun akan berbeda. Tapi secara umum, tipe orang tua itu bisa dikelompokkan ke dalam lima kelompok.

Tipe-tipe orang tua ini saya dapatkan ketika mengikuti presentasi parenting workshop dari sekolah Akas saat di Auckland dulu. Acaranya waktu itu mengangkat tema “Discipline without Shouting, Force or Fluster”, disampaikan oleh bu Joy Sluiters pada 7 Oktober 2019. Udah lama tapi baru ditulis sekarang, wkwk.

Bahasan mengenai tipe orang tua ini adalah sebagian dari materi workshop-nya. Saya rasa mending dipisah sendiri aja biar lebih fokus, hehe. Nanti perihal mendisiplinkan anak tanpa teriakan dan paksaan bakal saya tulis terpisah.

Berikut lima tipe orang tua dalam mendidik anaknya.

infografis tipe gaya pengasuhan orang tua

1. Tipe Sergeant-Major Parent

Tipe orang tua sersan mayor, berasa di militer gitu ya. Tipe ini style-nya otoriter dan disiplin. Kalau ngomong ke anak itu, tone-nya biasanya keras dan dalam, jadi mereka terasa tidak hangat terhadap anaknya.

Orang tua dengan gaya ini biasanya menerapkan banyak aturan buat anaknya. Mereka merasa perlu untuk punya kontrol penuh terhadap anaknya. Mereka juga cenderung suka memarahi, mengkritik anak, hingga menggunakan ancaman.

Efek negatif dari orang tua tipe sersan mayor ini yakni anak cenderung menurut kepada orang tuanya karena takut aja, bukan karena menghargai orang tuanya. Anak juga bisa memiliki self-esteem yang rendah.

Tapi seiring berjalannya waktu, malah bisa jadi bumerang buat orang tuanya, ketika anaknya sudah bisa memberontak atau membangkang pada orang tuanya.

2. Tipe Jellyfish Parent

Apa yang terbayang dari jellyfish alias ubur-ubur? Lembut dan elastis tentunya. Analogi yang pas untuk tipe orang tua yang berkebalikan dengan tipe sersan mayor.

Orang tua tipe ubur-ubur ini terlalu permisif, apa-apa dibolehin bahkan kadang ga ada batasan sama sekali. Apapun mau anak diturutin biar ga ada konflik. Kalau anak ada konflik, si orang tua langsung “menyelamatkan”.

Efek negatif pada anak yang orang tuanya tipe ubur-ubur ini adalah anak jadi bossy dan egosentris. Anak jadi tidak belajar apa konsekuensi dari setiap tindakannya. Anak bisa malas melakukan apa-apa karena ada orang tuanya yang mem-backup. Anak berasa bos yang bisa nyuruh-nyuruh orang tuanya dan mem-bully orang lain.

3. Tipe Unplugged/Frazzled Parent

Tipe ini adalah tipe orang tua yang mengabaikan anaknya, sering absen dari kehidupan anaknya, kurang pengawasan terhadap anak. Kalaupun ada, seringnya tidak sepenuhnya menghadirkan diri untuk anaknya.

Tipe orang tua ini sering kita temukan pada keluarga yang kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja atau melakukan hal lain sehingga hanya punya sedikit sekali waktu untuk anaknya. Kadang berjanji, tapi lupa ditepati.

Orang tua tipe ini sadar dan merasa bersalah atas ketidakhadirannya, dan tak jarang menjadikan materi sebagai kompensasi. Anak diberikan materi berlimpah sebagai pengganti kasih sayangnya.

Efek negatif dari gaya pengasuhan seperti ini yakni anak bisa merasa kesepian atau ditelantarkan oleh orang tuanya. Tak jarang juga anak bisa menjadi depresi.

4. Tipe Helicopter/Lawnmower Parent

Orang tua tipe helikopter adalah orang tua yang terlalu terlibat dalam kehidupan anaknya. Mereka biasanya overprotective dan terlalu mengatur semua yang dilakukan anaknya. Mereka biasanya yang menentukan si anak harus belajar apa, melakukan apa, berteman dengan siapa, dan sebagainya.

Tipe orang tua helikopter ini tidak mau anaknya merasa kesusahan, tidak nyaman, atau gagal melakukan sesuatu, sehingga mereka sering datang “menyelamatkan”, melakukan hal yang semestinya bisa dilakukan sendiri oleh si anak. Mereka ingin membuat segalanya menjadi mudah untuk si anak.

Efek negatif dari gaya pengasuhan helikopter ini adalah anak jadi tidak memiliki life skill yang semestinya. Anak menjadi terlalu tergantung pada orang tuanya dan memiliki rasa percaya diri yang rendah. Anak juga akan sangat kesulitan ketika harus berhadapan dengan kegagalan.

5. Tipe Backbone Parent Coach

Tipe yang terakhir ini adalah tipe orang tua yang ideal, yang bisa seimbang dalam pengasuhan. Mereka adalah tipe orang tua yang tenang, lembut, menyayangi, tapi tetap mempertimbangkan segala sesuatunya ketika mengambil keputusan.

Orang tua tipe parent coach ini fleksibel memberikan kesempatan pada anaknya untuk menentukan sesuatu, tapi tetap dengan batasan yang sesuai dengan nilai keluarga. Mereka memandang kesalahan yang dilakukan anak sebagai kesempatan untuk belajar.

Mereka tetap hangat pada anaknya tapi juga mangajarkan anaknya untuk bertanggung jawab dan disiplin. Anak diberi tanggung jawab sesuai dengan usia dan tumbuh kembangnya. Orang tua tetap menjaga martabatnya di depan anaknya.

Anak dari orang tipe ini akan tumbuh menjadi anak yang bahagia, percaya diri, dan disiplin. Ia merasa aman dan bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Penutup

Gaya pengasuhan yang digunakan seseorang biasanya dipengaruhi oleh gaya pengasuhan orang tuanya dulu. Dipengaruhi ini dalam artian, kita akan meniru gaya yang sama, atau malah memilih gaya yang sebaliknya.

Misalnya anak yang dulunya memiliki orang tua yang keras ala sersan mayor, bisa saja nanti juga keras terhadap anaknya. Atau malah sebaliknya, memilih menggunakan tipe ubur-ubur supaya anaknya tidak merasakan apa yang dia rasakan dulu.

Namun tidak selamanya akan seperti itu kalau kita mau belajar, memutus mata rantai gaya pengasuhan yang tidak baik tersebut.

Dari lima tipe orang tua di atas, saya pribadi merasa saya bukan salah satu dari tipe yang ada, melainkan campuran, wkwk. Ada kalanya saya keras terhadap anak, ada kalanya saya biarkan, ada kalanya saya atur, disesuaikan dengan situasi dan kondisi aja. Tapi saya juga belum sampai pada level orang tua ideal, heuheu.

Yaa, intinya jadi orang tua itu belajar sepanjang hayat ya, biar bisa terus memperbaiki diri dan melahirkan generasi yang lebih baik lagi.

Jadi, kamu tipe orang tua yang mana? šŸ˜‰

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: