Mencari Tempat Tinggal di Auckland

Nanti tinggal di mana? Itu salah satu pertanyaan yang mesti kami pikirkan sebelum pindah ke Auckland. Pengennya dapat yang bagus, murah, dekat kampus, dekat ke mana-mana; yang mana … MANA ADA, wkwkwk. Proses pencarian tempat tinggal ini dilakukan sepenuhnya oleh suami. Saya bagian dimintai pendapat aja, huehe. Tapi dari apa yang diceritakan suami, kesimpulan saya mencari tempat tinggal di NZ ini sedikit lebih ribet daripada di Indonesia, tapi tidak seribet di Jepang, hehe.

Baca juga: New Chapter: Pindah ke Auckland

Pilihan Tempat Tinggal untuk Keluarga Mahasiswa di Auckland

Sebelum menentukan mau tinggal di mana, ada beberapa pilihan tempat tinggal di sini dengan plus minusnya masing-masing.

Asrama Kampus

Sebelum berangkat ke Auckland, suami saya pernah dikirimi email oleh pihak kampusnya seputar asrama untuk keluarga. Waktu itu mereka minta keputusan dengan cepat karena asrama untuk keluarga itu terbatas jumlahnya dibanding peminat yang ada. Biaya sewa asramanya NZ$453/week kalau ga salah. Oh iya, biaya sewa tempat tinggal di sini dihitung mingguan, bukan bulanan.

Asramanya punya 2 kamar, sudah full furnished, dan biayanya sudah include semua (listrik, air, gas, internet). Lokasinya dekat dari kampus. Tapi melihat biaya sewanya, kami memutuskan untuk tidak mengambil asrama itu. Kenapa? Mahaaaal. Living allowance dari beasiswa suami saya itu NZ$491/week. Kalau tinggal di sana, berarti sisa NZ$38 saja untuk biaya hidup seminggu. Ga cukup uang segitu untuk hidup sekeluarga kk.

Yaa, saya masih kerja sih, dan kami bisa part time juga selama tinggal di sini. Tapiii kalau segitu terlalu banyak nomboknya. Jadi skip deh. Kami coba cari yang lebih murah aja, pengennya di bawah NZ$400/week.

Rumah/Flat Unit

Ngontrak rumah sendiri seperti saat di Bandung dulu sepertinya lebih nyaman ya untuk keluarga. Tapi kami juga skip pilihan ini karena beberapa pertimbangan.

  • Kampus suami saya lokasinya di pusat kota banget. Kalau mau sewa rumah yang murah, pilihannya pasti agak jauh dari pusat kota. Kalau jauh dari kampus, di sini enakan punya mobil. Kami merasa nanggung untuk beli mobil karena cuma 1.5 tahun tinggal di sini. Suami juga prefer tinggal tidak jauh dari kampus, biar kalau ada apa-apa ga susah untuk bolak-balik ke kampus.
  • Rumah kebanyakan disewakan unfurnished, adanya paling kitchen set aja. Kami prefer cari tempat tinggal yang sudah full furnished. Satu tahunan itu sebentar dan terasa rempong kalau kami harus melengkapi perabotannya sendiri. Cari perabot sih gampang, mau murah bisa beli yang secondhand. Tapi lebih ribet ngosonginnya nanti.
  • Sepertinya rumah juga lebih banyak disewakan dengan sistem flat sharing. Jadi dalam satu rumah ada beberapa kamar, dan di situ tinggallah beberapa orang/keluarga berbeda. Saya dulu banyak baca soal flat sharing ini di blog Syva. Hemat lebih banyak memang ketimbang tinggal sendiri. Tapi suami tidak mau tinggal bareng gitu, pertimbangan privasi dan belum tentu nemu orang yang cocok.

Apartemen

Karena maunya yang full furnished dan lokasinya dekat dari kampus, maka pilihan yang memungkinkan cuma apartemen. Di Auckland CBD ini memang banyakan tinggal di apartemen. Tapi ternyata cari apartemen ini juga tidak semudah yang dibayangkan. Kenapa? Budget minimalis sih, ahaha.

Asrama kampus suami itu, dari segi lokasi dan isi asramanya sebenarnya sudah tergolong murah. Tapi buat kami masih kemahalan. Apartemen lain dengan fitur serupa, pasti mirip-mirip atau lebih mahal biaya sewanya. Kalau mau yang lebih murah, pilihannya apartemen satu kamar atau tipe studio. Buat kami ga masalah apartemen tipe studio, masih bisa lah sekasur bertiga, haha. Cuma ternyata ga semua apartemen juga mau terima ada anak kecil. Macam-macam alasannya, dari yang emang ga mau aja, atau pertimbangan safety karena di apartemennya ada balkon.

Oia dulu juga udah dikasih tahu pilihan apartemen yang murah dan banyak orang Indonesia tinggal di sana. Yang urus apartemennya juga udah bisa dikontak sejak dari di Indonesia. Tapi kami ga buru-buru booking karena merasa lebih baik lihat unitnya terlebih dahulu. Dan setelah dilihat, rupanya suami kurang sreg, heuheu.

apartemen-di-auckland
Beberapa gedung apartemen di Auckland

Proses Mencari Tempat Tinggal di Auckland

Dulu saya memilih menyusul saja, salah satu pertimbangannya karena belum dapat tempat tinggal. Awal-awal di sini, suami flat sharing bareng mahasiswa Indonesia lainnya yang belum menikah. Lumayan jadi hemat banget keluar biaya sewanya dibanding kalau kami berangkat bareng lalu tinggal di akomodasi sementara. Suami baru mencari apartemen setelah beberapa hari berada di Auckland.

Baca juga: Auckland Itu Seperti Apa? Kenalan Yuk!

Urutan proses pencarian tempat tinggal ini sebenarnya berlaku untuk tipe rumah ataupun apartemen, dan sepertinya sama aja prosesnya di seantero NZ. Tapi berhubung kami carinya hanya apartemen di Auckland jadi saya sebut itu aja ya, hehe.

Mencari Iklan Apartemen

Di NZ kebanyakan orang mencari barang dan juga tempat tinggal dari situs TradeMe. Linknya ada dua nih, trademe.nz/property atau www.trademe.co.nz/property. Sama-sama aja kayaknya isinya, cuma trademe.nz lebih baru tampilannya. Di situs ini kita mesti buat akun untuk keperluan kontak dan sebagainya nanti. Akunnya cuma bisa dibikin kalau tinggal di NZ, karena nanti mesti isi alamat dan nomor HP juga.

Di situs TradeMe, kita tinggal masukin aja kriteria pencariannya biar yang ditampilkan lebih sesuai dan lebih sedikit. Dari awal diatur aja prioritas kriterianya apa, misal budget maksimal, jarak ke kampus, fasilitas, kondisi bangunan, akses transportasi, medan tempuh (karena Auckland ini naik turun daratannya), dll. Kalau kami yang penting: budget di bawah NZ$400, lokasi dekat kampus, dan full furnished.

Selanjutnya baca dan perhatikan dengan baik info tentang apartemennya. Cek juga lokasinya di Google Maps biar lebih kebayang medan sekitarnya. Jika ada yang diminati, hubungi kontak yang tersedia di sana untuk membuat janji melihat apartemennya (viewing).

Saran kami, buat yang bawa anak, saat kontak untuk viewing ini sekalian aja tanyain apakah di apartemennya boleh ada anak kecil. Kalau emang ga boleh, bisa skip dari awal, daripada buang-buang waktu untuk viewing. Tapi kalau tetap mau lihat-lihat ga apa-apa juga sih, haha.

Oia soal bawa anak ini penting banget untuk ditanyakan secara langsung. Jangan cuma berdasarkan asumsi, misal karena ada teman dengan anaknya tinggal di gedung apartemen yang sama, lalu berkesimpulan di sana memang boleh bawa anak. Kenapa? Satu gedung itu yang punya unit apartemen bisa banyak orang. Dan tiap orang itu bisa aja ada yang membolehkan, dan ada yang tidak. Pertimbangan mereka beda-beda.

Melihat Apartemen (Viewing)

Saat viewing bisa digunakan untuk melihat kondisi apartemennya dan bertanya berbagai hal kepada yang handle viewing. Yang handle bisa aja pemilik unit alias orang menyewakan, ataupun property manager alias agen yang ngurusin penyewaan apartemen itu. Untuk mempersingkat mari kita sebut saja dengan landlord.

Saat viewing, perhatikan kondisi bangunannya, aksesnya, perabotan yang tersedia apa aja. Tanyakan juga soal kontraknya, apakah ada masa kontrak minimum, biayanya berapa, cara apply-nya gimana, carinya tenant seperti apa, insulation (penghangat ruangan)-nya gimana, dll. Makin banyak apartemen yang dilihat makin bagus, karena dari sekian yang dilihat, belum tentu kita yang bakal dapat.

Dulu saya kira saat viewing ini kita datang dan lihat sendiri bersama landlord. Di Jepang sih dulu gitu, hehe. Eh ternyata tidak. Biasanya sekali viewing itu ada beberapa orang yang berminat yang datang berbarengan. Landlord-nya emang janjian dengan banyak orang. Biar hemat waktu kali ya. Dan apartemen yang dilihat pun belum tentu dalam keadaan kosong, tapi masih ada tenant sebelumnya yang akan segera keluar. Jadi masuk akal juga sih kenapa yang viewing ga satu per satu.

Karena yang viewing ada banyak, jadi kerasa banget persaingannya, haha. Suami pernah datang viewing dan ada orang lain yang datang sudah siap dengan segala berkas untuk apply.

Oh iya, untuk viewing ini datanglah tepat waktu sesuai jadwal janjian ya. Datang lebih awal lebih baik. Jangan telat. Suami saya pernah sekali telat datang, dan ga bisa viewing jadinya. Landlord-nya dikontak juga ga balas-balas lagi, ckckck.

Mengisi Berkas Aplikasi

Jika sudah menemukan apartemen yang cocok, kita bisa apply dengan mengisi application form yang disediakan landlord. Form ini bentuknya beda-beda, ada yang minta isi form langsung saat viewing, ada juga yang kasih form trus nanti kirim hasil scan via email.

Saat mengisi form, kita bakal diminta mengisikan data orang untuk jadi reference. Kayaknya bisa siapa saja yang tinggal di NZ juga. Suami waktu itu minta kontak teman sesama mahasiswa Indonesia yang sudah lebih lama tinggal di Auckland. Enak banget sih ini karena kalau di Jepang, reference ini mesti orang Jepang atau permanent resident.

Bisa pertimbangkan juga landlord itu expect-nya tenant seperti apa. Misal nih waktu suami apply apartemen yang sekarang, landlord-nya maunya tenant yang bakal ngontrak minimal 1 tahun. Jadi kalau kita ga mau, ya kemungkinan aplikasi kita bakal ditolak, hehe.

Menunggu Hasil Aplikasi

Karena saat viewing ada banyak orang, dan bisa jadi ada orang lain di jadwal viewing lain di tempat yang sama, maka peminat yang bakal apply apartemen itu sangat mungkin tidak hanya kita sendiri. Oleh karena itu, dari sekian aplikasi yang masuk, landlord harus memilih. Yang dipilih yang seperti apa? Wallahualam sih kalau itu, haha. Tergantung landlord-nya mungkin sregnya sama yang mana. Kalau diterima, alhamdulillah. Kalau ditolak, ya udah, berarti belum jodoh, hehe.

Mengurus Kontrak dan Pembayaran

Jika sudah dipilih oleh landlord, landlord akan mengirimkan berkas kontrak serta informasi pembayarannya. Ini sistemnya gimana, tergantung landlord juga. Dari pengalaman kami, di form kontrak kita bakal isi data para tenant serta tanda tangan syarat dan ketentuannya.

Biaya yang mesti kami bayarkan saat itu ada dua macam:

  • Rent in advance, ini biaya sewa yang dibayarkan di muka. Saat itu kami dikenakan biaya sebesar biaya sewa 1 minggu.
  • Bond, ini uang jaminan yang nanti bakal dikembalikan setelah kita keluar. Kami dikenakan bond sebesar 4 x biaya sewa 1 minggu.

Katanya ada juga yang dikenakan Letting Fee, yakni komisi untuk agen. Ini kayaknya ga balik sih nanti uangnya, heuheu.

Semua urusan kontrak ini dulu dilakukan suami via email saja. Praktis juga. Kontrak sudah beres, saatnya pindah, yay.

Akhirnya Berjodoh dengan Sapphire Apartments

Dulu saya udah siap-siap kalau ternyata dapat apartemennya lama, berarti saya berangkatnya juga mundur. Tapi ternyata di luar dugaan, dapatnya lebih cepat daripada yang dibayangkan, tidak sampai satu bulan sejak suami tinggal di Auckland.

Rezeki banget memang dapat apartemen ini. Kriteria utama dapet: biaya sewa murah, lokasi dekat kampus, full furnished. Sewa apartemen ini NZ$360/week. Belum termasuk listrik, air, dan gas sih. Tapi setelah dihitung-hitung, jatuhnya masih lebih murah dibanding tinggal di asrama. Plus lainnya: dapurnya luas, trus apartemennya bisa dibilang tipe satu kamar, bukan tipe studio. Ada dinding pembatas dan pintu antara kamar dan dapur.

Baca juga: Biaya dan Strategi Pindahan Sekeluarga ke Luar Negeri

Dapur itu buat saya penting sekali, hehe

Tapi di dunia ini mana ada yang sempurna ya, ahaha. Minusnya apartemen kami di lantai bawah (lantai 3 sih tapi masih tergolong bawah lah ya karena total ada belasan lantai), dan di seberang jendela ada gedung apartemen lain, sehingga kami ga kebagian cahaya matahari secara langsung. Trus kulkasnya kecil jadi ga bisa diisi banyak. Sungguh ku kangen kulkas besar yang dua pintu, haha. Buat kami bukan masalah besar sih, lagian ga bakal bertahun-tahun juga tinggal di sini, hehe.

Lalu soal insulation, apartemen ini juga ga punya ceiling dan underfloor insulation. Adanya wall insulation aja. Sebenarnya berdasarkan regulasi di NZ, tempat tinggal itu mesti punya ceiling dan underfloor insulation. Wall insulation malah ga wajib. Tapi ada pengecualian buat apartemen karena ceiling dan underfloor-nya mungkin ga bisa diakses untuk pemasangan insulation.

Tanpa insulation yang cukup, artinya kita ga bisa dapat suhu apartemen yang stabil sepanjang tahun. Di musim dingin lebih dingin dan di musim panas mungkin lebih panas dibanding apartemen yang punya insulation. Tapi ya udah sih, masih bisa diatasi lah ya. Winter kita pakai jaket dan heater, summer kita buka jendela dan pakai kipas angin. Jadi ingat ga ada AC juga di apartemen ini, ahaha.

Demikian proses yang kami lalui saat mencari tempat tinggal di Auckland. Semoga bermanfaat. Buat yang bakal cari tempat tinggal juga di Auckland, semoga dimudahkan yaa.

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment