NZ Road Trip: Ke Punakaiki Pancake Rocks dan Menyusuri Arthur’s Pass
Bicara tentang West Coast Region di New Zealand, destinasi wisata yang sering saya dengar adalah Franz Josef Glacier dan Fox Glacier. Tadinya kami pengen ke sana, tapi apa daya ada wilayah yang banjir dan akses jalan pun ditutup, jadi kami ga bisa mampir ke sana. Browsing apalagi yang menarik dan masih bisa dicapai, ketemulah saya dengan Punakaiki Pancake Rocks.
Dari foto-foto yang saya lihat ketika browsing, ya intinya di sana itu pantai dengan batu-batuan. Dan ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Tojinbo di Fukui, Jepang. Beda tipe sih, tapi dulu itu saya merasa takjub aja lihat pantai dengan landscape seperti itu, hehe.
Daftar Isi Tulisan Ini
Mengunjungi Punakaiki Pancake Rocks and Blowholes
Rabu, 18 Desember 2019
Malam sebelumnya kami menginap di sebuah campground di McMillan Road. Lokasinya lumayan dekat dari tempat yang ingin kami tuju, tidak sampai 5 menit perjalanan. Kami memarkirkan campervan di parkiran dekat Paparoa National Park Visitor Centre. Oh ternyata Pancake Rocks ini bagian dari Paparoa National Park.
Di seberang parkiran ada pagar bertuliskan Pancake Rocks Blowholes. Kami pun segera menuju ke sana. Begitu masuk, kami serasa masuk ke dalam hutan, di kiri-kanan penuh dengan pepohonan. Sementara pantai belum terlihat sama sekali. Kata peta di gerbang masuk, butuh waktu sekitar 20 menit untuk perjalanan PP menyusuri walking track yang ada di sana.
Saya ga nyangka walking track-nya bagus dan nyaman. Yang bawa stroller atau pakai kursi roda juga bisa ikut jalan-jalan di sini. Ada sih beberapa bagian yang pakai tangga, tapi dikit aja. Kalau ga melewati jalur yang bertangga itu juga ga apa-apa. Jalurnya juga banyak yang diberi pagar di sampingnya, jadi terasa lebih aman saat bawa anak kecil.
Sepanjang track ada beberapa papan informasi yang berisi sejarah dan sains seputar batu-batuan itu. Akas beberapa kali berhenti dan melihat-lihat gambarnya, tapi sayanya malas baca, wkwk.
Setelah beberapa menit, akhirnya pantai terlihat. Cuaca juga alhamdulillah lebih bersahabat. Tampak batu-batuan yang tinggi banget dan banyak ditumbuhi semak atau tanaman lainnya. Namun bebatuan yang berlapis-lapis itu masih belum terlihat.
Kami lanjut jalan, dan akhirnya ketemu juga landscape yang dicari. Katanya bebatuan ini disebut Pancake Rocks karena bentuknya berlapis-lapis gini, mirip tumpukan pancake. Baeklah. Kalau ini ada di Indonesia mungkin namanya jadi batu kue lapis ya, ahaha.
Alam memang menakjubkan ya, bisa bikin batu dengan tumpukan rapi seperti ini.
Pancake Rocks-nya udah kelihatan jelas, bagaimana dengan Blowholes-nya? Jadi di antara batu-batuan itu ada blowholes yang akan menyemburkan air seperti spray akibat tekanan di bawahnya.
Hanya saja Blowholes ini ga selalu kelihatan. Waktu itu kami sempat lihat dikit sih, kecil aja. Kalau beruntung bisa lihat semburan yang lebih gede lagi.
Setelah puas foto-foto, kami lanjut jalan melewati jalur yang berbeda. Ini jalur yang lebih sempit dan ada tangganya. Pemadangan di pantai masih didominasi batu-batuan.
Ada satu bagian yang menarik buat saya. Seiring berjalannya waktu, tentunya batu-batu di pantai itu mengalami erosi ya, karena angin, hujan, dan air laut. Ada batu-batuan yang entah dengan imajinasi siapa seperti tumpukan sejumlah makhluk gini, hihi. Saya cuma ngeh bagian paling kiri yang seperti muka orang, hehe.
Menyusuri Arthur’s Pass
Beres dari Pancake Rocks and Blowholes, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Karena cuaca cerah, jadi kami lebih bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan ini.
Dari Punakaiki hingga Greymouth, pantai ataupun perbukitan di dekat pantainya memang banyak yang berbatu-batu. Dari Greymouth belok masuk Arthur’s Pass, pemandangannya berbeda karena didominasi jalur pegunungan dan sungai.
Jalan di Arthur’s Pass ini berbelok-belok. Di kiri ada bukit atau gunung, di kanan ada sungai. Sungguh mengingatkan kami pada jalan dari Padang ke Bukittinggi, hehe. Ada “air terjun” juga, yang mengingatkan pada Lembah Anai, tapi saya ga tahu asal airnya dari mana. Kalau lihat bentuknya kok kayak saluran pembuangan, hehe.
Kami melihat ada plang lookout lagi. Kami pun mencoba mampir. Agak ngeri-ngeri sedap sih karena jalannya nanjak. Namanya Otira Viaduct Lookout. Dari sini bisa terlihat jembatan layang di Arthur’s Pass. Tapi B aja sih rasanya, lebih keren Kelok Sembilan kata saya mah, hehe.
Beberapa kali kami berhenti sebentar untuk memotret pemandangan sekitar. Satu hal yang kerasa beda di Arthur’s Pass ini adalah kami ga melihat bunga lupin sebanyak di jalur tengah (Pukaki-Tekapo-Wanaka). Lebih banyak bunga-bunga warna putih dan warna kuning yang saya ga tahu namanya. Yaa lumayan lah buat ganti suasana, hehe.
Mampir di Lake Pearson
Perjalanan terus berlanjut. Berikutnya kami melewati Lake Pearson, dan berhubung ada perhentian juga di sana, kami mampir deh. Sebelumnya saya sempat lihat juga foto teman yang berkunjung ke sana, jadi saya rada kepo juga.
Sesampainya di sana, nothing special sih rasanya, heuheu. Mungkin karena udah lihat Lake Pukaki dan Lake Tekapo yang warna airnya toska, sama Blue Pools yang kebiruan, melihat danau tanpa warna cerah rasanya jadi B aja. ^^v
Kami beneran cuma mampir bentar banget di Lake Pearson ini lalu pergi. Yang bikin takjub justru pemandangan setelah dari danau ini.
Jadi beberapa hari sebelumnya, dari Wanaka kami sempat mampir ke Queenstown. Di Queenstown ini saya ngarep masih bisa lihat bukit yang bersalju. Saya suka banget lihat bukit atau gunung yang ada saljunya. Ternyata di sana lagi ga ada salju sama sekali. Yaa bisa dimaklumi juga sih, wong udah summer waktu itu.
Eh tanpa disangka, bukit bersalju itu malah saya temukan di Arthur’s Pass ini. Masya Allah. Langsung request suami buat berhenti random di pinggir jalan dan foto-foto, hehe.
Diingat-ingat lagi, rasanya hari sebelumnya ketika seharian hujan, kami ga lihat ada salju deh di sepanjang Arthur’s Pass ini. Atau mungkin juga jadi ada salju karena hujan itu ya? Wallahualam, yang jelas alhamdulillaaah.
–
Masih ada dua tempat lagi yang kami singgahi di sepanjang Arthur’s Pass ini, yakni Cave Stream dan Castle Hill. Di kedua tempat ini kami berhenti lebih lama karena benar-benar menikmatinya. Nanti ceritanya ditulis terpisah ya. Kali ini sekian dulu, semoga bermanfaat. 😀
Salam,
suka view alam kayak gini, roadtrip di New Zealand wishlist. Alamnya bener bener bagusss banget